Sayangnya, menurut dr Sri, stigma masih banyak terjadi di kalangan keluarga. Banyak informasi pula yang men-judge kusta itu penyakit kutukan, sehingga orang jadi semakin takut tertular.
"Saya tahu sakit ini jadi ada stigma diri dan sosial. Klo stigma sosial, orang lain men-judge. Kalau sehari-hari di poliklinik banyak pasien dengan dokternya curhat," ungkapnya.
Karena itu, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung dr Wiendra Waworuntu, M.Kes menegaskan, pasien kusta jangan takut untuk berobat. Support system di kalangan keluarga juga sangat dibutuhkan karena bisa menyemangati pasien dan membuat pasien berpikiran positif.
"Kalau orang tahu menderita kusta, pastikan langsung berobat. Hidup bersama pun tidak bermasalah sebenarnya. Jadi jangan dikucilkan, tapi harus dibawa berobat, family support penting dan sosialisasikan ini," ucap dr Wiendra menyimpulkan.
(Utami Evi Riyani)