Obsesi pada selfie tersebut terus menerus menekankan pada satu atau lebih kekurangan yang dirasakan terhadap penampilan seseorang, kebanyakan dari mereka ingin menurupi cacat yang hampir tidak terlihat oleh orang lain, hal tersebut dikenal sebagai gangguan dysmorphic tubuh (BDD).
Mereka yang mengidap BDD akan terus mencari kepastian tentang penampilan mereka, mereka akan terus menerus bercermin, dan mereka percaya bahwa semua orang di sekitar mereka membicarakan kekurangannya. Mereka kan terus berusah menyembunyikan cacat yang dirasakan dengan menggunakan makeup, operasa plastik, atau dengan gaya berpakaian.
"Proses mengambil, mengubah, dan memposting foto selfie secara negatif memengaruhi harga diri dan persepsi citra tubuh, serta membuat dysmorphia berkembang di tubuh. Ketergantungan pada ponsel dan selfie dapat membuat generasi berikutnya menjadi tidak stabil secara mental,” tuturDr. Shome.
(Martin Bagya Kertiyasa)