SALAH satu desainer kenamaan asal Indonesia Yanny Tan telah menjadi tamu istimewa dalam pergelaran Peragaan Busana bertajuk Nature’s Poetry Couture Collection 2018. Busana yang diciptakan Yanny Tan berceritakan tentang nuansa alam nan indah yang tampak pas dituangkan ke dalam motif batik tulis di atas kain tenun sutra atau ATBM.
Semua busana dibuat dan dirancang sendiri, menghasilkan sesuatu yang spesial bagi siapa pun yang mengenakannya. Dalam mencipta karyanya, dia meraih ilham dengan hikmat keseluruhan tampilan busana yang ingin diciptakan.
Rancangannya pun kental akan perpaduan budaya tradisional dan modern yang ditunjukan dari penggunaan bahan seperti wool untuk kemeja pria, organdy sutra, dan embroidery dalam potongan yang modern.
Baca Juga: Andalkan Gaya Sportwear Look, Baby Margaretha Umbar Lekuk Tubuh Seksi
Terlepas akan pesona rancangannya yang bertema kontemporer klasik yang berakar dari kebudayaan Jawa, dia juga memiliki hambatan sendiri dalam proses pembuatan busana. “Kendala terbesar saat pembuatan bahannya karena 90% material dibuat sendiri,” ucapnya saat konferensi pers di ballroom The Darmawangsa.
Sementara untuk desain dan motif pada batik tulis, berasal langsung dari tangannya. Jadi, jangan heran apabila motif batik yang terlukis di busananya terlihat benar-benar alami hasil goresan tangan seorang Yanny Tan.
Proses pembuatan busana sang desainer ini memakan waktu minimal 3 bulan untuk menghasilkan sebuah karya. Namun, baginya kendala paling hebat terletak pada pemilihan bahan.
Menurutnya, dia sangat menikmati tahap demi tahap proses pembuatan busana yang ingin dia tampilkan. Oleh sebab itu, dia akan melakukannya sampai merasa puas dan menurutnya tidak ada batasan waktu untuknya menuangkan ekspresinya di atas kain.
Baca Juga: Gading-Gisella Cerai, Instagram Gempita Bakal Diserang Netizen?
Sosok seniman sejati terpancar dari aura Yanny Tan yang selalu ingin menyesuaikan warna yang paling cocok diaplikasikan ke busananya. Tak heran, dia seperti sosok perfeksionis dalam mencipta seni yang pandai memadupadankan warna-warna hangat khas Indonesia.
Peragaan busana sendiri bagi Yanny menjadi bukti kearifan lokal untuk semakin mencintainya dan tetap selaras dengan kemajuan teknologi sekalipun.
(Martin Bagya Kertiyasa)