Selain itu, Stone Town juga menjadi saksi bisu sebagai tempat penyiksaan dan perdagangan budak sekira tahun 1800-an. Dahulu, ribuan budak dikumpulkan dalam tempat yang kecil itu sebelum dikirim ke luar negeri. Tur menelusuri perdagangan budak tersebut akan berakhir di sebuah gua yang berada di balik pantai indah di Mangapwani.
Tak hanya nilai sejarahnya yang menarik perhatian, Stone Town juga menawarkan suasana yang tak asing untuk wisatawan dari Indonesia. Pasalnya, 98 persen warganya beragama Islam, sehingga budaya mereka tak berbeda jauh dengan Indonesia. Kebudayaan Stone Town juga dipengaruhi oleh Arab, India, dan Afrika.
"Saat Ramadan, Anda bisa mendengar satu masjid ke masjid lain membaca Al-Quran, setiap masjid membaca satu juz setiap malam," jelas Hon. Mahmoud.
Setelah puas menikmati keindahan kota yang penuh sejarah, Anda juga bisa berbelanja di pasar yang menjual rempah-rempah. Seperti diketahui, Zanzibar memang dikenal akan hasil rempah-rempahnya.
(Utami Evi Riyani)