Diet Tinggi Daging Merah dan Olahan Menyesatkan, Jadi Penyebab Kanker Usus Besar!

Muhammad Sukardi, Jurnalis
Selasa 23 Oktober 2018 10:31 WIB
Sakit Perut (Google)
Share :

KANKER masih menjadi penyakit yang cukup ditakuti masyarakat Indonesia. Pola hidup yang tidak sehat menjadi faktor terbesar penyakit ini muncul.

Bicara mengenai kanker di dunia, ternyata kanker usus besar menjadi salah satu penyebab kematian baik pada perempuan mau pun laki-laki. Meski begitu, Dokter Spesialis Penyakit Dalam FK-UI dr Ari Fahrial Syam, SpPD, menjelaskan bahwa kanker usus besar bisa diobati dan bisa dicegah.

"Semakin dini ditemukan, semakin baik prognosisnya. Jika kasus kanker usus besar ini ditemukan pada stadium awal, maka harapan hidup 5 tahunnya mencapai 92 %, sebaliknya jika kanker usus ini ditemukan pada stadium IV atau lanjut maka harapan hidup 5 tahunnya hanya tinggal 12 %," terang dr Ari pada Okezone melalui pesan singkat, Selasa (23/10/2018).

 Baca juga: Siap-Siap Becek, Kafe Ini Lantainya Berair dan Ada Ikannya Loh!

Gaya hidup menjadi salah satu penyebab kenapa kanker usus besar tetap bertahan sebagai penyebab utama kematian dan angka kejadian terus meningkat di tengah masyarakat.

 

Dr Ari menjelaskan, dalam prakteknya sehari-hari kasus kanker usus sudah umum ditemukan. Saat ini bahkan kasus-kasus baru ditemukan pada usia yang lebih muda.

"Faktor genetik memang merupakan salah satu faktor risiko terjadinya kanker usus besar tetapi gaya hidup merupakan hal yang utama," singkatnya.

Beberapa faktor risiko yang telah teridentifikasi dan konsisten dalam berbagai penelitian termasuk penelitian di Indonesia, sambungnya, adalah diet tinggi daging merah serta daging olahan, serta kurang makan sayur dan buah.

 Baca juga: Power Rangers Hadir di Jakarta Fashion Week 2019?

"Anjuran untuk mengontrol berat badan dengan konsumsi daging merah yang berlebihan dan tidak mengonsumsi buah karena mengandung karbohidrat, merupakan anjuran yang menyesatkan," tegas dr Ari.

Selain karena diet tinggi daging merah, kebiasaan merokok pun sampai sekarang masih menjadi bagian dari faktor risiko kanker usus besar. Tidak hanya mereka yang perokok aktif, tetapi juga perokok pasif tergolong dalam faktor risiko.

 

"Beberapa kasus kanker usus yang saya temukan bukan pada perokok aktif saja, tapi orang terdekat dan sekitar perokok aktif juga mengalami masalah yang sama, sehingga mereka terkena kanker usus besar," terang dr Ari.

Menurut dr Ari, Indonesia masih surganya perokok. Hal ini karena para perokok bebas merokok di mana saja. Di beberapa kota besar di negara maju, dr Ari memandingkan, sudah sangat sulit untuk mencari tempat buat merokok.

 Baca juga: Tak Hanya Dalam Film, Ternyata Singapura Memiliki 1.000 Orang Crazy Rich

Fakta ini sudah sejatinya diperhatikan dan dicari solusinya supaya jumlah perokok aktif mau pun pasif tidak semakin tinggi. Dengan begitu, salah satu faktor risiko kanker usus besar bisa diminimalisir.

Selanjutnya, dr Ari menjelaskan juga beberapa faktor risiko lain dari masalah kanker usus besar ini. Adalah kegemukan, kurang bergerak, dan peminum alkohol. Ada beberapa faktor risiko yang tidak bisa berubah yaitu umur. Ya, mereka yang berusia di atas 50 tahun, terang dr Ari, menjadi batasan umur untuk memulai skrining.

Faktor genetik berupa riwayat kanker atau polip usus pada keluarga, riwayat penyakit radang usus kronis (inflammatory bowel disease atau IBD) sebelumnya, riwayat penyakit kencing manis atau diabetes mellitus juga merupakan faktor risiko yang harus diantisipasi.

"Penyakit ini awalnya tanpa gejala. Oleh karena itu buat masyarakat yang mempunyai faktor risiko tinggi terjadinya kanker usus besar, disarankan untuk kontrol ke dokter," ujarnya.

Lalu, gejala seperti apa yang menggambarkan seseorang sudah mengalami kanker usus besar?

 Baca juga: Cuaca Terik Bikin Lemas? Yuk Bikin Virgin Mojito untuk Kembalikan Semangat

Dr Ari menuturkan bahwa gejalanya bisa berupa buang air besar berdarah, pola defekasi yang berubah baik mudah diare atau sembelit secara bergantian, sakit perut berulang, berat badan turun, pucat tanpa sebab yang jelas, bahkan pada beberapa pasien, saat diraba perutnya, terasa seperti ada benjolan.

Kemudian, apa yang bisa dilakukan jika sudah mengalami gejala tersebut?

Dr Ari menjelaskan, pasien bisa melakukan pemeriksaan kolonoskopi dan dilanjutkan dengan biopsi. "Ini merupakan metode utama untuk menemukan kanker usus besar," terangnya.

Sebagai tambahan, dr Ari menyarankan untuk setiap orang mampu mengenali faktor risiko, kontrol ke dokter jika mempunyai faktor risiko, kenali gejalanya dan segera berobat ke dokter.

"Selalu menjaga kesehatan dengan tetap melakukan gaya hidup sehat. Sekali lagi penyakit kanker usus besar bisa dicegah dan bisa diobati semakin dini ditemukan semakin baik harapan hidup 5 tahun kedepan untuk para pasien," tambahnya.

(Fakhri Rezy)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya