Upacara pesta roti tak beragi tersebut dibuat pada musim semi bulan pertama dan berlangsung selama satu pekan mulai dari hari pertama sampai hari kedelapan. Dipilihnya angka delapan karena ini adalah angka yang melewati kurun historis dan simbol dari keabadian.
Baca juga: Intip 4 Gaya Busana Habib Bule , Habib Bahar Smith yang Ditolak Masuk Manado
Seiring berjalannya waktu, roti tak beragi makin sering digunakan dalam perjamuan karena memiliki beberapa kelebihan. Roti ini tidak cepat rusak dan berjamur. Hal inilah yang membuat roti tak beragi cocok sebagai tubuh kristus yang merupakan makanan surgawi untuk kehidupan kekal.
Redemptionis Sacramentum, menjelaskan secara gamblang mengapa roti tak beragi dipilih sebagai tubuh kristus dalam perayaan ekaristi umat Katolik. Roti tak beragi tersebut harus murni dan tidak boleh dicampur dengan apapun.