Berbeda dengan Dian yang menyukai pakaian bergaya bold , Raisa lebih menyukai pakaian bergaya santai, namun memiliki fitur di bagian pinggang. Raisa tidak begitu suka baju dengan potongan yang terlalu lurus. Salah satu fitur yang diutamakan pada koleksi Raisa adalah 3D laser cut . “Untuk salah satu baju yang spesial di-request Raisa adalah baju dengan 3D fabric ,” ujar Carline. Sementara itu, menurut Brand and Marketing Director Cottonink Ria Sarwono menuturkan keempat sosok perempuan ini sangat beda umurnya. Dari umur di bawah 20, awal 20, akhir 20, pertengahan 30. Karena perbedaan range umur pihaknya membagi dalam dua label.
“Untuk Isyana dan Vanesha itu labelnya Cottonink, sedangkan untuk Raisa dan Dian, ada Cottonink Studio yang lebih mature ,” ujar Ria. Vanesha mengaku menemukan brand fashion lokal berkualitas, tidak semudah yang dibayangkan. Karena itu, brand ini, menurut dia, berbeda karena merupakan produk dalam negeri yang berkualitas dan tidak meninggalkan ciri khas gaya berpakaian orang Indonesia. “Dalam kolaborasi ini, saya diikutsertakan dalam proses pembuatannya. Saya pun dapat mengekspresikan gaya saya sendiri di label fashion Indonesia,” tutur Vanesha.
(Renny Sundayani)