Bisa dibilang brutal memang karena selain rahim menghangat atau hamil online, netizen perempuan pun bahkan ada yang membandingkan kemampuan Jojo di balik net dengan di bed alias kasur. Merujuk pada pemaparan Arrundina jelas pembandingan net dan bed sudah tergolong sexual harassment jika memang itu indikatornya menurut psikolog.
Baca juga: Mengenal Arti Kata Mental Juara, Psikolog: Dia Jujur dan Punya Nilai Juang yang Tinggi!
Netizen yang kritis menanggapi fenomena rahim menghangat dan hamil online terhadap selebrasi Jojo ternyata mendapat dukungan dari seorang Chika Noya, aktivis perempuan yang diwawancarai VOA Indonesia. Bagi Chika komentar netizen perempuan terkait tubuh Jojo sudah termasuk seksis dan tidak menghargai Jojo sebagai atlet.
“Dia (Jojo) atlet. Skillnya dilatih bertahun-tahun. Harusnya skill-nya itu yang dilihat, bukan dia sebagai objek seksualitas. Dia bukan penari telanjang, bukan model yang berolah raga supaya tampak ideal, seperti yang dianggap ideal dalam lingkungan patriarki,” tutur Chika.
Kembali pada lingkungan yang selama ini ada dan dirasakan oleh perempuan, tindakan seperti siulan, godaan, hingga colekan kecil pada perempuan dianggap biasa oleh masyarakat. Malahan penilaian pada paras seperti cantik atau tampan yang sering sekali dikatakan oleh masyarakat kebanyakan bagi Chika adalah sesuatu yang sebenarnya merendahkan, tapi karena terus-menerus dianggap biasa, jadilah hal yang wajar. Jadi, perempuan yang sekarang berkomentar terhadap tubuh Jojo merasa tindakan itu biasa saja. Pada sudut pandang lain, Chika menganggap wajar Jojo merasa bangga.
“Dia bukan perempuan yang sudah diobjektifikasi dari lahir. Yang dicolek, disiulin. Dia tidak sadar menjadi objek seksual, dia tidak sadar kalau sedang direndahkan,” pungkas Chika.
(Fakhri Rezy)