Sedangkan, Irwan Hidayana, Pengamat Gender dan Seksualitas Universitas Indonesia dalam pemaparannya pada VOA Indonesia, mengungkap dia belum melihat seksisme dari komentar netizen tentang aksi Jojo.
“Jangan-jangan bagi si Jojo (komentar-komentar) itu jadi kebanggaan dia sebagai laki-laki, punya tubuh maskulin yang (dianggap) ideal oleh konstruksi sosial masyarakat ini,” ujarnya.
Menariknya lagi, menurut penilaian Irwan, lewat fenomena rahim menghangat ini, nampak perempuan lebih terbuka dalam mengekspresikan kekagumannya pada tubuh lelaki. Lantas bagaimana pada sisi Jojo sendiri? Ternyata dalam sebuah wawancara usai pertandingan Asian Games 2018, Jojo mengaku sorakan penonton saat membuka baju adalah semangat baginya.
Baca juga: Momentum Asian Games 2018 yang Belum Diketahui Banyak Orang, Semuanya Keren Banget!
Merujuk pada sexual harassment
Lain pendapat para ahli dan dari sisi Jojo, beda pula komentar netizen yang kritis, seperti cuit seorang perempuan di Twitter, “Bingung gw haha kesel ama orang yang berlebihan banget komen soal Jojo buka baju, rahim angetlah, apalah. Sebel juga sama orang nanggepin berlebihan soal sexual harassment, dsb. Chill. Sans deh,” tulisnya. Tidak hanya satu netizen saja yang menanggapi fenomena rahim menghangat ini, seorang netizen pria pun tergerak hatinya untuk berkomentar lewat akunnya, ia menulis, “Ternyata objektifikasi bukan cuma milik kaum pria terhadap perempuan, perempuan juga ga kalah brutal yah aha.”