"Jadi ini namanya memek. Enggak boleh diganti karena dari nenek moyang kami namanya yaitu memek," jelas Almawati.
Selama ini, memek memang tidak setiap hari bisa dijumpai di pulau yang dikenal dengan penghasil cengkeh dan lobster itu. Karena makanan ini biasanya disajikan sebagai menu berbuka di bulan Ramadan. Pada bulan itu, hampir semua masyarakat membuat memek untuk disantap ketika buka puasa.
(Baca Juga:Nasi Kuning Bertabur Cakalang, Juara Nikmatnya di Manado)
"Tapi kalau hari-hari biasa kalau dipesan ada juga. Karena ini bahannya santan jadi tidak tahan lama. Kami tidak pakai pengawet sehingga tidak ada efek samping saat dimakan," ujar Almawati.