HAL pertama yang akan langsung menarik perhatian ketika melihat Carolyn Tan Bee Kim adalah senyumnya. Senyum Tan lembut dan hangat, seperti pribadinya. Ini tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menyukainya.
Berada di dekatnya, Tan adalah sosok yang mampu menularkan energi positif. Sulit dipercaya hidup pernah begitu kejam pada Tan mungil.
Lebih dari 30 tahun yang lalu, tidak lama setelah Tan lahir di Penang (Tan adalah anak ke-6 dari sebuah keluarga), ibu kandungnya pernah membuangnya ke tempat sampah. Beruntung, pengasuh yang siaga menyandari ada sesuatu yang tidak beres terjadi. Tan segera ditemukan dan diselamatkan.
Beberapa tahun berlalu, Tan akhirnya diadopsi oleh sebuah keluarga yang membesarkan Tan dengan penuh kasih sayang. Di usia Tan yang ke-11, orangtua angkatnya buka mulut tentang siapa sebenarnya Tan dan kejadian apa yang menimpanya ketika masih bayi. Tan mengakui, kebenaran itu sempat memengaruhi psikologisnya untuk beberapa waktu.
"Saat itu aku begitu sedih, emosiku meledak dan aku terus bertanya pada diriku sendiri, "Mengapa ibu kandungku tidak mau menerimaku dan mencampakkanku dengan cara seperti itu?" Hal itu memengaruhi hidupku selama sebulan. Tapi setelah itu aku menyadari, bahwa aku tidak boleh sedih karena aku dibesarkan oleh orangtua yang justru memberikan aku cinta yang lebih banyak," ungkap Tan.
Nyatanya, di tangan keluarga angkat Tan justru memiliki masa kecil yang sangat bahagia. Tidak hanya dengan ayah dan ibu angkatnya, kedekatan dan keakraban Tan hingga ke nenek angkatnya. Neneknya adalah pemilik kedai makanan khas Peranakan di Bukit Mertajam, Penang yang sudah beroperasi selama 25 tahun. Kejelian Tan akan kuliner ternyata diwariskan dari sang nenek.
Mengenal Pneumonia, Penyakit Mirip Flu yang Buat Ronaldo Kritis
"Nenekku sangat suka memasak. Ia tidak pernah absen memasak untuk keluarga, ia membuat sarapan, makan siang hingga makan malam. Masakan yang paling sering dimasak tentu saja makanan Peranakan seperti ayam pong teh, nyonya laksa dan mee siam. Ia juga sangat suka bikin bah kut teh untuk keluarga, ini adalah keahlianya. Ketika aku masih kecil, aku selalu menghabiskan waktu ku dengan nenek di dapur , ini yang secara alami membangun ketertarikan ku dalam memasak dan membuat kue," ceritanya.
(Sekadar informasi, melansir Wikipedia, bah kut teh atau rou gu cha adalah satu lagi makanan yang lahir dari budaya Tionghoa selat Malaka. Menurut sejarah versi Port Klang, bak kut teh diciptakan awal abad ke 20. Makanan ini adalah makanan kuli pelabuhan. Daging yang dipakai adalah daging bertulang yang merupakan sisa penjualan daging. Sup daging ini dimasak dengan berbagai rempah dan obat-obatan sebagai tonik dengan harga yang terjangkau oleh para kuli kasar itu.)
Kesehatan nenek Tan menurun saat Tan remaja. Menginjak usianya yang ke 15, Tan mulai bereksperimen di dapur. Mencoba mengkreasikan resep neneknya.
"Nenek mulai sakit-sakitan, jadi saya mulai sering di dapur untuk mencoba resepnya dan membuat rasanya sama persis seperti yang nenek buat. Saat itu aku merasa nenek tidak akan hidup lebih lama jadi aku harus melanjutkan warisannya," katanya.
Ketika Tan berumur 17 tahun, sang nenek meninggal dunia. Tan sangat terpukul, tetapi kesedihannya terganggu oleh sebuah catatan yang ditinggalkan sang nenek untuk Tan, dua hari sebelum kematiannya.
"Isi catatan itu: Kamu sangat berbakat. Kalau kamu ingin memiliki keuangan bagus, maka coba dan bangun restoran dan lanjutkan usahaku," ungkap Tan.
Meskipun memiliki 30 sepupu, seingat Tan, hanya dirinya yang ditinggalkan pesan seperti itu oleh neneknya. Dalam hatinya Tan berjanji akan meneruskan usaha kuliner sang Nenek. Tidak saat itu juga, beberapa tahun ke depan Tan justru bekerja di luar bidang kuliner. Ia pernah bekerja sebagai pajak konsultan di perusahaan keuangan. Hingga pada suatu saat, ide untuk membuka restoran kembali memenuhi kepalanya. Jadi ia memutuskan untuk berhenti kerja dan membuka restoran ketika umurnya 30 tahun.
Tahun ini Tan berusia 30 tahun dan sukses memenuhi keinginan neneknya dengan membuka Appa Bistro & Bar di Telawi, Bangsar, Kuala Lumpur. Restoran itu menyuguhkan menu spesial resep sang nenek yakni bah kut teh yang juga telah dimodifikasi oleh Tan. Restorannya juga menyuguhkan menu Peranakan kesukaan keluarganya yakni ayam pongteh.