MENJADI seorang chef profesional merupakan impian banyak orang, termasuk para generasi muda. Dalam beberapa tahun terakhir, profesi ini seolah menjelma menjadi pekerjaan mewah dan menyenangnkan, setelah sejumlah stasiun televisi menayangkan acara masak yang telah disesuaikan dengan gaya hidup masa kini.
Melihat fenomena tersebut, sebuah pertanyaan besar pun muncul, apakah kualitas chef sudah mumpuni jika diikaitkan dengan penampilan glamour mereka di layar kaca televisi?
Mantan Juri MasterChef Indonesia, Chef Degan Septoadji mengatakan, ada sebuah fenomena baru di mana beberapa chef muda mulai berkreasi dengan menyajikan hidangan yang sulit dan rumit serta menampilkan presentasi yang heboh.
"Saya sering melihat hal itu. Tapi sayangnya mereka lupa untuk mempelajari dasar memasak yang baik, seperti teknik memasak yang benar, cooking time yang tepat, cara memotong berbagai jenis bahan, keseimbangan cita rasa setiap komponen dalam hidangannya dan masih banyak lagi," ungkap Chef Degan saat dihubungi Okezone, beberapa waktu lalu.
Ia menambahkan, tanpa menguasai teknik memasak yang benar mungkin sebuah hidangan hanya ditampilkan dengan cantik, tapi rasaya kurang. "Pada akhirnya sebuah masakan akan dinilai dari keseluruhan citarasanya saat dinikmati," tutur Degan.
Menjadi seorang juru masak yang handal, memang tidak semudah yang orang bayangkan. Profesi ini membutuhkan dedikasi yang tinggi dalam pengimplementasiannya di dunia kerja.
Untuk menjadi seorang chef profesional, dibutuhkan proses yang panjang dan tak jarang harus menguras tenaga dan juga waktu. Hal ini tentu saja berbanding terbalik seperti yang terlihat di layar kaca televisi.
"Profesi chef saat ini, sedang booming karena terbawa-bawa dengan acara-acara televisi. Yang terlihat memang glamour, chef dilambangkan layaknya celebrity. Jadi banyak yang mengira profesi chef itu menyenangkan. Padahal ada sebuah perjuangan di balik itu semua," tutur Chef Stefu Santoso, Executive Chef AMUZ Gourmet Restaurant.
Pada kenyataannya, untuk sampai di level profesional, perjuangannya tidaklah mudah. Seorang chef harus betul-betul mempelajari teknik dasar dalam memasak, memahami culture kerja di dapur, serta menciptakan inovasi-inovasi terbaru di setiap masakannya.
"Selama 18 tahun saya berkarir, harus saya akui bahwa pressure kerja seorang chef sangat luar biasa. Saya pernah kerja selama 24 jam, dari jam 3 sore sampai jam 3 pagi. Hal ini saya lakukan, karena profesi ini bersentuhan langsung dengan keamanan pangan para konsumen," jelas salah satu anggota Ikatan Praktisi Kuliner Indonesia itu.
Saat ditanya terkait tantangan dan hambatannya, Stefu dengan antusias menjelaskan berbagai pengalaman unik selama menggeluti dunia chef. Di satu titik, ia pernah menghadapi permasalahan management food cost yang sangat krusial. Ini karena harga bahan makanan yang terus meningkat setiap waktunya.
BACA JUGA:
5 Profesi Ini Enak Kerjanya Cuma Jalan-Jalan, Bikin Iri!
"Selain permasalahan management, saya juga pernah mendapatkan complain dari seorang pelanggan, yang menyatakan bahwa hasil masakan saya tidak sesuai standar. Masalah seperti ini harus diselesaikan secara bijaksana. Karena ada juga yang complain dengan tujuan menjatuhkan karir kita," ujarnya.
Meskipun demikian, Stefu menuturkan bahwa profesi chef di masa mendatang akan sangat menjanjikan. Ini disebabkan, karena tidak semua orang paham dengan profesi tersebut.
Dibutuhkan orang-orang yang memiliki dedikasi tinggi, untuk menciptakan sebuah hidangan yang benar-benar disukai oleh para konsumen.
"Future-nya sangat bagus, khususnya di level overseas. Australia bahkan sedang gencar-gencarnya mencari chef profesional, karena makanan Indonesia sedang booming di sana. Selain itu, banyak sekali chef asal Indonesia yang sukses di Dubai, karena orang Indonesia terkenal tekun dan memiliki loyalitas yang tinggi," tutupnya.
(Santi Andriani)