"Bahaya atau tidak, iya tentu akan bahaya jika dilakukan dan ditiru oleh orang lain. Sebenarnya enggak ada gunanya ikut challenge-challenge berisiko tinggi, karena attention seeking pun bisa dilakukan dengan cara-cara yang lebih baik dan feeling proud juga bisa didapatkan dengan cara-cara yang lebih positif. Tapi, hanya saja remaja itu punya tendensi untuk eksplorasi dan mudah ter-challange. Mereka memang menyukai hal-hal berisiko tinggi as a part of menjawab rasa penasaran dan proses trial eror diri mereka," imbuhnya.
Terakhir, Tara menyarankan kepada orangtua untuk bisa mengingatkan serta memberikan peringatan pada anak perihal konsekuensi yang harus ditanggung atas segala perbuatan, salah satunya melakukan aksi tantangan berbahaya seperti #inmyfeelingschallenge ini.
"Orangtua perlu memberikan warning dan ajak anak bicara kira-kira apa risikonya sehingga sebelum bertindak mereka sudah memikirkan terlebih dahulu konsekuensinya. Yang bahaya kan perilaku impulsif, action dulu baru mikir," tandas Tara.
(Utami Evi Riyani)