Lalu bagaimana soal tantangan aksi cukup berbahaya ini, jika dinilai dari sudut pandang ahli profesional seperti psikolog? Psikolog Tara Adhisti de Thouars menilai aksi ini adalah gabungan antara attention seeking (mencari perhatian), adrenaline rush, dan perasaan bangga saat bisa berhasil melakukan tantangan itu. Attention seeking dapat terlihat dari orang-orang yang melakukan adegan itu, kemudian mempertontonkan dan dibagikan kepada orang lain.
"Jadi tahu kalau akan dapatkan respon dari orang lain. Adrenaline rush karena melakukan tindakan berisiko tinggi, lalu adanya rasa bangga atau feeling proud karena merasa berhasil melakukan sesuatu tindakan yang tidak wajar dan berbahaya," ungkap Tara saat dihubungi Okezone, Sabtu (21/7/2018) melalui sambungan telefon.
(Baca Juga:Benarkah Orangtua Milenial Lebih Santai dalam Mendidik Anak?)
Tara melanjutkan, aksi melakukan tantangan seperti ini sebetulnya tidak memberikan manfaat apa-apa. Sebab masih banyak cara menarik perhatian yang jauh lebih positif, namun di sisi lain Tara menyoroti karakteristik khas kaum remaja ialah suka mengeksplor dan mudah tertantang.