BELAKANGAN ini suhu udara di Indonesia turun, efek fenomena puncak kemarau yang terjadi sekitar Juli-Agustus. Beberapa daerah bahkan dikabarkan mengalami suhu cukup rendah kurang dari 15 derajat celcius.
Saat suhu udara dingin seperti sekarang ini memang lebih nyenyak dan nyaman tidur mengenakan selimut yang tebal. Terlepas dari fenomena suhu udara yang rendah di Indonesia, ternyata selimut sudah dikenakan bahkan sejak 3.500 SM di Mesir, yang semula berbahan linen, dilansir dari laman Atlas Obscura, Selasa (10/7/2018).
Pada abad pertengahan di Eropa penutup tempat tidur atau seprai dan selimut khusus untuk orang kaya. Namun, seiring perkembangan zaman, pada periode modern awal di Eropa akhirnya diproduksilah selimut dan seprai lebih banyak, sehingga orang kelas menengah pun bisa membelinya.
(Baca Juga:Ini Dia Dukagjin Lipa, Ayah Dua Lipa yang Tampannya Bikin Salah Fokus)
Selain menggunakan selimut dan seprai, masyarakat pada masa lalu saling menghangatkan jika udara sedang dingin, atau mereka juga biasa tidur dengan hewan peliharaan. Sementara itu, dari sebuah studi yang lakukan oleh Carol Worthman dan Melissa Melby dari Emory University, hanya kaum yang hidup nomaden saja yang tidak menggunakan selimut saat tidur, sedangkan masyarakat lainnya menggunakan beberapa jenis penutup, seperti kain yang terbuat dari serat tanaman atau kain tenun.
Kebiasaan tidur dengan mengenakan selimut sebenarnya memiliki manfaat lainnya tidak hanya menghangatkan tubuh. Dari sejumlah penelitian yang dilakukan, selimut juga bisa memberikan efek menenangkan, terlebih jika beratnya mencapai 30 pon yang senilai dengan 13 kilogram.
(Baca Juga:Barang Apa Saja yang Boleh dan Tidak Boleh Diambil dari Hotel? Survey Ini Jelaskan Jawabannya)
Uniknya, dari penelitian yang telah dilakukan tersebut, selimut bahkan mampu menghilangkan kecemasan dan digunakan dalam pengobatan autisme. Dijelaskan dalam penelitan, sekira 60-90 menit sebelum tidur tubuh biasanya kehilangan suhu inti, untuk mengembalikannya perlu dihangatkan, agar manusia lebih waspada.
Menghangatkan tubuh dengan selimut ini penting, karena ketika tubuh suhunya rendah atau dingin manusia cenderung merasa lebih mengantuk dan kurang waspada dengan lingkungan. Jika tidak mengenakan selimut, kemampuan tubuh untuk mengatur suhunya akan jadi lebih rumit pada malam hari.
Saat seseorang tidur selama delapan jam, empat jam pertama ditambah satu jam sebelum tidur suhu tubuh seorang manusia turun sedikit, namun empat jam kedua ditandai oleh periode pergerakan mata yang cepat saat sebagian besar mimpi terjadi bersamaan dengan sejumlah perubahan fisik, di waktu inilah tubuh berusaha untuk mengembalikan suhunya.
Jadi, kita harus memiliki beberapa cara untuk mengatur suhu tubuh secara eksternal. Anda mungkin berpikir tidak perlu menggunakan selimut ketika panas, tapi pada pukul empat pagi Anda akan membutuhkannya. Ketika tidur menggunakan selimut dan masuk ke periode mimpi, tubuh secara drastis menurunkan kadar serotonin, neurotransmitter, yang memiliki efek membuat perasaan tenang, bahagia, dan sejahtera.
(Utami Evi Riyani)