TIDAK ada satu orang pun yang siap menghadapi perpisahan. Bagi pasangan suami istri yang sedang menghadapi perceraian, tentu mereka membutuhkan orang-orang yang mendukungnya. Hal inilah yang turut dirasakan oleh seorang perempuan bernama Maureen.
Bercerai pada 2010 lalu membuat Maureen membutuhkan support group. Keadaan itu membawanya untuk bergabung dengan komunitas Single Parents Indonesia yang angotanya pria dan wanita.
“Saya ikut tapi rasanya kurang nyaman karena itu gabungan. Sementara menurut saya hal-hal yang dihadapi ibu tunggal itu berbeda dengan ayah tunggal,” ungkapnya saat bertandang ke Redaksi Okezone beberapa waktu lalu.
Seiring berjalannya waktu, Maureen bertemu dengan dua orang penulis yang mengarang buku mengenai ibu tunggal. Dia pun diundang untuk menghadiri peluncuran buku tersebut. Pada saat itu dirinya melihat banyak ibu-ibu tunggal lainnya. Dari situ perempuan berambut pendek itu memiliki keinginan untuk mendirikan komunitas yang anggotanya khusus ibu tunggal.
(Baca Juga:Bahaya Sampah Plastik Jangka Panjang yang Tidak Anda Duga)
“Jadi kebutuhan untuk group single moms sebenarnya ada. Dari situ mulai bikin group Facebook, website, media sosial. Sampai pada akhirnya, tanggal 8 September 2014, Single Moms Indonesia resmi berdiri,” tuturnya.
Tak hanya sekadar bertemu untuk mengobrol dan curhat, komunitas ini juga dimaksudkan untuk mengadakan beragam kegiatan yang membuat ibu tunggal merasa lebih kuat dan berdaya.
“Lewat komunitas ini kami ingin mengedukasi bahwa single moms tidak harus selalu memikirkan masa lalu masalah anak, masalah mantan suami. Kita berharap mereka lebih memikirkan masa depan sehingga diberikan banyak edukasi dan pelatihan,” tutur anggota Single Moms Indonesia lainnya, Sabrina.
Dijelaskan olehnya, komunitas tersebut ingin selalu mengajari para ibu tunggal untuk bersyukur dan lebih siap menghadapi masa depan. Banyak ibu tunggal yang mengalami trauma karena ditinggal oleh mantan suaminya.
(Baca Juga:5 Fakta Tentang Lynsi Snyder si Ratu Burger Amerika)
“Mereka selama ini berada di zona aman sebagai istri, kemudian setelah bercerai, sudah tidak dinafkahi sehingga mereka benar-benar sendiri. Itu pengalaman traumatis dan kita biasanya menemani mereka dari titik nol temenin sampai bisa stabil,” imbuh Sabrina.
Selain itu, komunitas ini juga memberikan pembelajaran bagi para ibu tunggal untuk tidak memusuhi mantan suaminya atau menjelek-jelekkan mereka di depan anaknya.
“Bagaimanapun itu adalah ayah dari anaknya, yang jelek itu ‘kan kelakuannya. Jangan sampai anak membenci ayahnya, jadi kita edukasi di situ,” terang Maureen.
Baik Maureen maupun Sabrina berharap komunitas yang sudah beranggotakan lebih dari 400 orang ini bisa lebih menjangkau seluruh wilayah Indonesia untuk memberikan kekuatan bagi para ibu tunggal. Keduanya juga berharap agar komunitas mereka bisa diakui oleh pemerintah melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
(Utami Evi Riyani)