Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengenal High Conflict Divorce, ketika Konflik Pasca-Perceraian Tak Kunjung Berakhir

Djanti Virantika , Jurnalis-Minggu, 23 Agustus 2026 |12:05 WIB
Mengenal High Conflict Divorce, ketika Konflik Pasca-Perceraian Tak Kunjung Berakhir
Mengenal High Conflict Divorce. (Foto: Freepik)
A
A
A

PERCERAIAN tidak selalu menjadi akhir dari konflik dalam sebuah hubungan. Bagi sebagian mantan pasangan, perpisahan justru diikuti persoalan baru yang terus bermunculan.

Ketika konflik berlangsung intens, berulang, dan sulit menemukan penyelesaian, kondisi tersebut kerap disebut sebagai high conflict divorce. Lantas, apa itu high conflict divorce?

1. Apa Itu High Conflict Divorce?

Psikolog klinis dewasa, Hersa Aranti, dalam acara Morning Zone di Youtube Okezone menjelaskan bahwa high conflict divorce merupakan pola konflik yang terus berkelanjutan setelah perceraian. Konflik biasanya berlangsung dengan intensitas tinggi dan dalam jangka waktu yang panjang.

Menurut Hersa, konflik tersebut dapat berpindah dari satu persoalan ke persoalan lainnya. Ketika satu topik telah selesai dibahas, persoalan baru dapat kembali memicu konflik.

“High conflict divorce adalah pola konflik yang terus berkelanjutan, yang biasanya secara intens, berkepanjangan,” jelas Hersa.

“Kalau satu topik selesai akhirnya konfliknya pindah ke topik lain gitu yang terjadi sebenarnya setelah perceraian terjadi gitu. Itu yang akhirnya disebut dengan high conflict divorce,” lanjutnya.

2. Beda dengan Konflik Biasa Setelah Perceraian

Konflik setelah perceraian sebenarnya merupakan hal yang cukup wajar. Perceraian membawa banyak perubahan dalam kehidupan seseorang, mulai dari perubahan rutinitas hingga pola komunikasi dengan mantan pasangan.

Terlebih, apabila pasangan memiliki anak. Setelah berpisah, keduanya tetap perlu berkoordinasi mengenai pengasuhan, kebutuhan, dan berbagai kepentingan anak. Namun, terdapat perbedaan antara konflik pasca-perceraian yang wajar dengan high conflict divorce.

Menurut Hersa, konflik yang masih berada dalam batas wajar biasanya memiliki penyelesaian. Setelah terjadi perbedaan pendapat, pasangan akhirnya dapat menemukan titik temu atau kesepakatan.

“Jadi konflik yang terjadi setelah perceraian itu sebenarnya sangat wajar gitu ya. Biasanya kan pasti akan banyak perubahan nih, perubahan rutinitas. Apalagi kalau sudah ada anak harus akhirnya koordinasi masalah anak gitu, jadi sebenarnya balik lagi konflik ini wajar,” jelas Hersa.

“Yang akhirnya membedakan adalah konflik yang wajar itu adalah konflik yang ujung-ujungnya terjadi penyelesaian konflik. Jadi perbedaannya dari segi pola di mana konflik itu ada ujungny.  Kalau konflik yang tadi never ending itu akhirnya konflik yang tidak ada penyelesaiannya, tidak ada kesepakatan apa pun, tetap ongoing,” lanjutnya.

Sementara itu, pada high conflict divorce, konflik cenderung tidak memiliki ujung yang jelas. Persoalan dapat terus berlanjut meskipun topik yang diperdebatkan sudah berganti. Selain berlangsung lebih lama, konflik semacam ini biasanya memiliki frekuensi dan intensitas yang lebih tinggi dibandingkan konflik biasa.

“Balik lagi kalau dari satu topik misalnya pun ada penyelesaian ternyata konflik terjadi di topik-topik lain. Jadi konfliknya berlanjut meskipun topiknya sih itu berbeda-beda gitu. Itu yang akhirnya membedakan. Dan biasanya memang lebih intens dari durasi lebih lama, dari frekuensi juga lebih banyak.  Jadi ibaratnya versi lebih intensnya daripada konflik-konflik biasa gitu,” jelas Hersa.

 

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement