SERANG - Masjid Agung Ats-Tsaurah atau biasa disebut warga Serang dengan istilah Masjid Agung Serang berdiri pada 1870-1888 M. Masjid yang terletak di Jalan Maulana Yusuf, Kota Serang, Banten, itu memiliki luas bangunan 26.510 m2 (2,6 hektare).
Masjid ini memiliki kapasitas jamaah sekitar 2.500 orang. Berdasarkan catatan pengurus DKM, Masjid Agung Serang mulai dibangun oleh Rd Tumenggung Basudin Tjondronegoro, mantan Bupati Pandeglang dan Bupati Serang pada 1870-1888 M.
Kepengurusan Masjid Agung Serang terus berganti-ganti seiring dengan berjalannya waktu dan meningkatnya kebutuhan akan pengelolaan manajemen masjid yang profesional. Dalam 20 tahun terakhir ini, tercatat tiga kali pergantian kepengurusan DKM, yakni periode 1996-1998 pimpinan Aman Sukarso dengan fokus pembangunan masjid, periode 1998-2005 dipimpin Sandir Usman, dan pada periode 2006- kini diketuai H Pandji.
Fokus kegiatannya adalah merestrukturisasi manajemen dan menata ulang tata ruang masjid dengan mendirikan beberapa bangunan penunjang. Sementara kegiatan Masjid Agung Serang dalam pelaksanaannya melibatkan beberapa pihak, yaitu pengajian rutin setiap sebulan sekali, kajian bulanan (kalbu) dengan pembahasan kajian tematik bekerja sama dengan FSPP Kabupaten Serang yang dilaksanakan setiap akhir bulan, pengajian bulanan ibu-ibu BKMT dan Alhidayah Kabupaten/Kota Serang, serta pengajian rutin pemuda (rimas).
[Baca Juga: Masjid Al Muttaqin, Saksi Sejarah Masuknya Agama Islam di Kota Manado]
Pada bulan Ramadan ini banyak masyarakat Kota Serang sengaja buka bersama dengan keluarganya di halaman masjid. Karena terdapat jajanan takjil hingga makanan berat di lokasi masjid. Bahkan, Islamic Center Kota Serang di Kawasan Masjid Ats-Tsauroh menyediakan kudapan khas berbuka puasa setiap Ramadan.
Kios-kios nonpermanen hampir selalu terisi penuh pedagang yang menjajakan beragam menu khas berbuka. Sebut saja ketan bintul dan empal daging yang begitu legendaris, kolak pisang, sop buah, pacar cina, lemang, hingga kolang-kaling.