Niat Puasa Ramadan Harus Diucapkan? Ini Penjelasannya

Agregasi Solopos, Jurnalis
Rabu 30 Mei 2018 11:32 WIB
Ilustrasi sahur. Foto: Mirror
Share :

PARA ulama sepakat niat merupakan rukun dari puasa. Dengan kata lain, ibadah tidak dianggap sah dan berpahala jika tidak disertai niat.

Para ulama memberikan perhatian cukup besar terhadap perkara niat. Bahkan, Imam Syafi’I, Ahmad Ibnu Mahdi, Ibnu al-Madini, Abu dawud, dan ad-Daru Quthni mengatakan niat merupakan sepertiga ilmu.

Sebagaimana dikutip dari Nu.or.id, niat secara bahasa berarti menyegaja. Sedangkan secara istilah (menurut mazhab Syafi’i, red) niat adalah ‘bermaksud melakukan sesuatu disertai dengan pelaksanaannya’ (qashdusy syai’ muqtarinan bi fi‘lihi) (Salim bin Sumair al-Hadhrami, Safînatun Najah, Surabaya, Miftah, halaman 3; dan Muhammad bin Qosim Al-Ghazi, Fathul Qorib, Indonesia, Daarul Hayaai Kitaabi ‘Arabiyyah, halaman 13).

Fungsi niat adalah untuk membedakan antara satu ibadah dengan ibadah yang lainnya, atau membedakan ibadah dengan adat kebiasaan.

Keharusan niat puasa malam hari sampai sebelum terbit fajar hanya berlaku bagi puasa Ramadan dan tidak berlaku bagi puasa sunnah. Karenanya tidak mengapa dan sah-sah saja niat untuk berpuasa sunah itu baru diniatkan walaupun di waktu duha, dengan catatan dari terbitnya fajar hingga waktu duha itu belum seteguk pun air yang diminum dan belum ada kecuil pun makanan yang dimakan.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya