BERBICARA mengenai pengawetan makanan, proses ini sebenarnya sudah terjadi sejak dahulu kala. Akan tetapi, masyarakat dulu mengenal metode pengawetan dengan cara dan bahan alami. Namun seiring perkembangan teknologi, muncullah proses pengawetan baru dengan cara pengalengan.
Jenis makanan yang diawetkan dengan cara pengalengan pun terus bertambah. Salah satunya adalah buah kaleng. Beberapa orang bahkan senang mengonsumsi buah kaleng tersebut. Namun amankah konsumsi tersebut?
Melansir berbagai sumber, Minggu (8/4/2018) mengonsumsi buah kalengan sebenarnya aman-aman saja terlebih seseorang sebenarnya membutuhkan asupan buah setiap harinya. Dengan kata lain buah kaleng dapat memenuhi kebutuhan buah untuk tubuh.
Buah kalengan memang tidak memiliki penampilan dan tekstur semenarik buah-buahan segar. Tapi perlu diketahui bila nutrisi di dalam buah kaleng tetap sama. Buah kaleng dapat menjadi sumber vitamin dan mineral yang baik antara lain vitamin A dan E, serta serat.
Akan tetapi, meskipun buah kaleng dapat memberikan manfaat yang tak jauh berbeda, ada fakta lain yang harus diperhatikan. Proses pengalengan biasanya akan mengurangi kadar vitamin B dan vitamin C dalam jumlah banyak. Selain itu, buah dalam kaleng biasanya disiram dengan cairan manis seperti sirup atau air buah. Hal itu membuat buah kaleng memiliki kalori dan gula yang lebih banyak yang dapat memengaruhi berat badan
Sebagai contoh, satu buah pir mengandung 60 kalori dan 12 gram gula. Namun, ketika buah tersebut diawetkan dengan cara pengalengan dan ditambah dengan sirup, kandungannya menjadi 100 kalori dan 19 gram gula. Selain itu, menurut penelitian pada 2011 yang dilakukan oleh para ilmuwan di Pusat FDA, sekira 90% makanan yang dikalengkan termasuk buah mengandung BPA yaitu zat kimia yang ditemukan dalam lapisan kaleng. BPA memiliki kemungkinan untuk berdampak buruk bagi kesehatan.
Tapi kembali lagi, tidak ada salahnya bila Anda ingin mengonsumsi buah kaleng karena itu membantu memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh. Hanya saja sebelum memakan atau membeli buah kalengan, sebaliknya Anda membaca dengan seksama label informasi takaran gizi sehingga bisa ditentukan seberapa banyak porsi yang harus dikonsumsi. Selain itu, untuk meminimalkan risiko kesehatan, jangan memilih kaleng yang menggembung, penyok, bocor, atau segel yang rusak.
(Renny Sundayani)