"Ada sebagian sampel yang pemeriksaannya dilakukan di laboratorium kesehatan daerah (Labkesda), karena Labkesda ini diharapkan dapat membeckap laboratorium di Surabaya, yang menjadi laboratirum rujukkan nasional untuk pemeriksaan difteri," ujarnya.
Momentum itu juga ditetapkan agar puskesmas melakukan sistem kewaspadaan dini dan respon cepat terhadap 23 penyakit berpotensi kejadian luar biasa (KLB). Aaron mengatakan, pembahasan terkait antisipasi difteri itu digelar dalam bentuk rapat koordinasi (rakor) dengan melibatkan sejumlah institusi kesehatan.
Peserta yang dilibatkan yakni Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dinas Kesehatan Kota Jayapura, puskesmas se Kota Jayapura, para dokter spesialis anak di rumah sakit di Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Keerom.
Selanjutnya, perhimpunan dokter spesialis ahli penyakit dalam, ikatan dokter anak Indonesia cabang Papua, Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia.
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jayapura, RSUD Abepura, Rumah Sakit Bhayakara, Rumah Sakit Angkatan Laut, Rumah Sakit Marthen Indey juga hadir dalam pertemuan itu. "Ada sekitar 60 orang dari berbagai instansi kesehatan yang hadir dalam rapat kala itu," tambah Aaron.
(Risna Nur Rahayu)