Sementara itu, salah seorang warga Maratua, Sardi, mengatakan saat ini listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) belum kunjung menerangi salah satu pulau terluar itu. Padahal di Pulau Derawan yang cuma satu kampung saja, sudah ada PLN 24 jam, di sini empat kampung belum ada sama sekali.
Terdapat empat kampung di Pulau Maratua, di antaranya Payung-payung, Bohe Silian, Teluk Harapan dan Teluk Alulu. Dia mengatakan saat ini masyarakat hanya mengandalkan genset untuk menerangi rumah serta untuk kegiatan sehari-hari.
Sardi mengatakan butuh tujuh liter solar atau seharga Rp70.000 untuk mengaliri listrik satu malam, sementara di siang hari, Ia dan keluarga tidak menggunakan listrik karena biayanya sangat mahal. “Kalau malam saya harus bikin es buat jualan, siang tidak pakai listrik,” katanya.
Dia menambahkan itupun hanya bagi keluarga yang mampu membeli genset, sisanya kalau malam gelap gulita. Sehari-hari, Sardi yang berasal dari Surabaya itu menghidupi keluarganya dengan berjualan makanan saji, seperti nasi ayam, bakso juga kebutuhan bahan pokok, seperti telur dan gas. “Satu tabung gas hargnya Rp50.000,” katanya.
Ia menuturkan banyak pejabat pemerintah yang mengunjungi warung makannya, baik dari pemda maupun pemerintah pusat serta Anggota DPR dan berjanji akan menghadirkan PLN di Pulau Maratua, namun saat ini belum kunjung terpenuhi.
Ditemui terpisah, Wakil Bupati Berau Agus Tantomo mengatakan pihaknya sudah menghubungi pemerintah provinsi agar PLN bisa masuk ke Pulau Maratua.
“Kami ini kesulitan karena Pemda tidak memiliki kewenangan di bidang kelistrikan karena sudah ditarik pemerintah provinsi, makanya kami sangat berharap peran PLN menangani kelistrikan ini. Sudah disampaikan, sejauh ini bagus respons PLN,” katanya.
Agus mengatakan pihaknya akan memasang listrik berkapasitas tiga megawatt untuk tahap awal. “Untuk sementara cukup, tetapi untuk jangka panjang belum,” katanya.
Sebelumnya sudah terpasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), namun sudah tiga bulan rusak dan belum kunjung diperbaiki.
(Muhammad Saifullah )