Maratua, Surga Bahari di Perbatasan Indonesia

, Jurnalis
Jum'at 23 Februari 2018 19:41 WIB
(Foto: Vacationspotindonesia)
Share :

MARATUA - Menjadi salah satu dari 92 pulau terluar di Indonesia, Pulau Maratua memiliki keindahan alam yang tak perlu dipertanyakan. Hamparan pasir putih dan air laut yang jernih bukanlah hal yang sulit ditemukan di pulau yang terletak di Laut Sulawesi yang berbatasan langsung dengan Malaysia.

Kendati letaknya di Laut Sulawesi, Pulau Maratua masuk ke dalam wilayah Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur. Apabila dilihat di peta, pulau ini berbentuk melengkung tajam seperti boomerang, senjata tradisional suku asli penduduk Benua Australia, Aborigin. Lengkungan itu merangkul pulau-pulau kecil yang terdapat di dalam teluknya.

Pulau yang memiliki luas wilayah daratan sebesar 384,36 kilometer persegi dan wilayah perairan seluas 3.735,18 kilometer itu menyimpan keanekaragaman hayati, seperti penyu, terumbu karang, mangrove, padang lamun dan ikan-ikan karang.

Penduduk yang hidup di Pulau Maratua tersebar di empat kampung, di antaranya Kampung Bohe Silian, Payung-Payung, Teluk Harapan dan Teluk Alulu.

Wakil Bupati Berau Agus Tantomo mengaku Pulau Maratua merupakan salah satu wisata andalan Kabupaten Berau karena terdapat 44 titik penyelaman atau paling banyak di antara pulau yang dimiliki Kabupaten Berau lainnya, seperti Derawan, Sangalaki, Nabuko dan Kakaban.

Di Berau ini kalau ditanding dengan kabupaten lain dalam hal banyak-banyakan atau unik-unikan objek wisata, berani saya, katanya. Pasalnya, Pulau Maratua sendiri juga memiliki objek wisata Labuan Cermin, yaitu danau yang sangat jernih bak cermin yang di dalamnya terisi dua jenis air berbeda, air payau di bagian atas dan air laut di bagian bawah.

Selain itu, Kabupeten Berau juga memiliki wisata Pulau Kakaban yang di dalamnya terdapat danau seluas lima kilometer yang hidup di dalamnya ubur-ubur tanpa sengat di mana hanya ada dua di dunia ini, yaitu di Pulau Kakaban dan di Republik Palau, salah satu negara kepulauan di Samudera Pasifik.

Dengan keindahan yang dimiliki, Agus menyayangkan wisata Kabupaten Berau tidak dimasukkan ke dalam 10 tujuan wisata utama oleh Kementerian Pariwisata. “Dulu kami masuk di antara empat tujuan utama, sekarang tidak masuk di antara 10, jadi tidak pernah dipromosikan ke luar negeri oleh pemerintah pusat karena yang dibawa selalu yang 10 itu,” katanya.

Agus menuturkan pihaknya saat ini tengah menggenjot sektor pariwisata sebagai potensi inti daerahnya, setelah komoditas andalan, yaitu sawit dan batubara melesu dalam dua tahun terakhir.

Hal itu terbukti dari jumlah wisawatan, baik Nusantara maupun mancanegara yang berkunjung ke Kabupaten Berau sepanjang 2017 hampir menyentuh angka 200.000 orang atau meningkat 24 persen dari tahun sebelumnya.

Terlebih, secara nasional sektor pariwisata termasuk ke dalam lima penyumbang terbesar devisa negara dalam dua tahun terakhir, bahkan dua penyumbang terbesar dalam satu tahun terakhir. “Kan, sayang kalau kita memiliki banyak potensi, tidak memanfaatkan itu, tidak diarahkan ke situ,” ujarnya.

Saat ini, lanjut dia, promosi-promosi dilakukan sendiri dengan mengikuti sejumlah pamerah, seperti pameran wisata ekstrem dan menyelam yang akan diselenggarakan di Jakarta, Maret mendatang.

Menuju KEK Untuk itu, saat ini Pemerintah Kabupaten Berau telah mengajukan agar wisata bahari Kabupaten Berau lolos menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang ditargetkan tahun ini bisa tercapai.

Terdapat 17 syarat yang harus dipenuhi untuk menjadikan KEK yang ditetapkan oleh Presiden. Untuk Kabupaten Berau sendiri saat ini tengah dilakukan studi kelaikan dan analisis dampak lingkungan (amdal).

Keuntungan apabila wisata Kabupaten Berau dijadikan KEK, maka akan mendapat kemudahan dalam mengembangkan sektor pariwisata karena akan mendapatkan insentif, seperti pembebasan pajak yang juga akan menstimulus para investor untuk menanamkan modalnya. “Itu akan memacu pertumbuhan pariwisata sangat cepat, bebas biaya tertentu, ada diskon, insentif, ini menarik bagi investor,” ujar Agus.

(Baca Juga: Hiii,,,di Maratua Ada Legenda Manusia Setengah Iblis)

Namun, dari keseluruhan resor yang ada di pulau-pulau di Kabupaten Berau, pengelolaannya masih didominasi oleh perusahaan asing, seperti dari Jerman dan Malaysia. Ia sendiri mengaku sumber daya manusia (SDM) lokal masih terserap tinggi, terutama untuk wisata bahari karena masih membutuhkan tenaga kerja lokal. “Contoh untuk `master dive', yang dibutuhkan lokal karena dia yang lebih tahu titik menyelam yang bagus dan aman,” katanya.

Dia menambahkan infrastruktur merupakan kendala terbesar untuk mengembangkan sektor wisata, karena untuk membangun akses jalan kewenangan berada di Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.

“Pemerintah pusat menyadari potensi yang luar biasa di sini, bantu kami bukan hanya dipasarkan tetapi bantu benahi infrastruktur kami karena kalau kami harus menanggung enggak kuat karena ada masalah defisit anggaran akbat penerimaan kami yang berkurang, harga batubara menurun,” katanya.

(Baca Juga: Gini Guys Caranya Kalau Mau Nge-Trip ke Maratua)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya