Kehadiran Bandara bagai dua sisi mata uang, keuntungan yang dimiliki oleh Pulau Maratua sebagai pulau terluar, yaitu keindahan alamnya yang cenderung masih terjaga karena belum banyak terjamah oleh tangan-tangan manusia, namun menjadikan wisatawan untuk berpikir dua kali untuk mengunjunginya karena jaraknya yang jauh dari Ibu Kota serta akses yang masih terbatas.
Bagi wisawatan yang ingin menikmati keindahan alam Pulau Maratua, setidaknya harus melakukan penerbangan ke Balikpapan atau Tarakan terlebih dahulu. Dari Balikpapan, wisatawan bisa melanjutkan perjalanan dengan pesawat udara menuju Bandara Kalimarau, Kabupaten Berau kemudian dilanjutkan dengan menaiki perahu cepat (speed boat) selama kurang lebih 2,5 jam. Apabila dari Tarakan, Kalimantan Utara, untuk menuju Pulau Maratua bisa menaiki kapal dengan waktu tempuh selama tiga jam.
Namun, saat ini sudah hadir Bandara Maratua yang membuka akses serta memangkas waktu tempuh bagi wisatawan yang ingin menyambangi pulau eksotis itu. Penerbangan baru dioperasikan Garuda Indonesia melalui penerbangan sewa atau carter Balikpapan-Maratua dan sebelumnya Susi Air sebagai penerbangan perintis dengan frekuensi penerbangan seminggu sekali untuk rute Berau-Maratua.
Agus menilai kehadiran bandara di Pulau Maratua akan membawa dampak besar bagi masyarakat karena wisatawan akan semakin mudah untuk menjangkau pulau terluar ini. Untuk itu, dia berharap lebih banyak lagi maskapai yang membuka rute ke Pulau Maratua, terutama penerbangan langsung karena akan mendongrak jumlah wisatawan.
Kepala Satuan Pelaksana Bandara Maratua Budi Sarwanto mengatakan saat ini lelang masih berproses untuk penerbangan perintis yang nantinya akan dioperasikan di Bandara Maratua. Bahkan, bandara tersebut sebetulnya sudah siap diresmikan Presiden sejak dua tahun yang lalu.
Dari segi fasilitas, bandara yang menjadi titik penghubung antarpulau tersebut memiliki kapasitas sisi darat atau terminal seluas 750 meter persegi yang bisa menampung 36.000 penumpang per tahun. Bandara Maratua juga sudah bisa didarati pesawat ATR-72 berkapasitas 72 orang.
Budi mengatakan nantinya akan disediakan tempat untuk memasarkan produk lokal usaha kecil mikro dan menengah (UMKM) warga setempat, sehingga bandara tidak hanya sebagai tempat mendarat dan lepas landasnya pesawat, tetapi juga penggerak perekonomian daerah yang berdampak hingga nasional.
Harapan kami kehadiran bandara ini memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat, jadi nanti pasti akan kita siapkan untuk memasarkan hasil produk berupa kerajinan dan makanan khas, katanya.
(Baca Juga: Menyapa Negeriku dan Percikan Semangat Pendidikan di Maratua)
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Berau Abdul Rahman mengatakan tahun ini mendapatkan bantuan empat bus dari Kementerian Desa, Pembangunan Darah Tertinggal dan Transmigrasi.
Empat bus tersebut akan menghubungkan bandara dengan empat kampung di Pulau Maratua dan diharapkan bisa membantu mobilitas baik warga setempat maupun wisawatan.
“Kami berharap bandara ini segera diresmikan karena agar ada gaung ke masyarakat luas dan menarik banyak wisatawan untuk datang ke Maratua, kebanggan tersendiri punya bandara di pulau terluar, di pulau-pulau lain belum tentu ada seperti ini dan menjadi harapan juga bagi masyarakat,” ujarnya.