Cara Penularan Demam Keong yang Meresahkan Warga Sulawesi Tengah

Dewi Kania, Jurnalis
Jum'at 19 Januari 2018 20:51 WIB
Demam keong (Foto: NPR)
Share :

DEMAM keong tengah melanda Provinsi Sulawesi Tengah yang cukup meresahkan warga. Meski penyakit ini sangat jarang dikenali orang, tak ada salahnya Anda mengenalinya.

Penyakit demam keong dikenal dengan istilah schishtosomiasis. Ini salah satu jenis penyakit tropis yang cukup sulit diberantas sekira 35 tahun belakangan.

Telah dilaporkan sebanyak 28 desa di wilayah Palu dan sekitarnya tengah dilanda penyakit tropis ini. Penularan demam keong disebarkan lewat larva yang tidak hanya mengintai manusia, tetapi juga pada hewan.

BACA JUGA:

Lansia Hobi Berkebun Hidupnya Lebih Bahagia dan Awet Muda

Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan Kemenko PMK dr Sigit Priohutomo menjelaskan, larva tersebut bisa menyusup ke kulit yang nantinya berkembang biak menjadi cacing. Orang yang tinggal di sekitaranya sawah rentan mengalami demam keong.

"Penyakit demam keong harus ditangani secara serius karena bisa memberikan dampak yang buruk. Bahayanya larva serkaria dapat menembus kulit manusia dan tumbuh dewasa di dalam tubuh manusia," terang Sigit lewat siaran persnya yang diterima Okezone, Jumat (19/1/2018).

Nah, cacing yang sudah masuk ke dalam perut, akan memakan darah dalam tubuh dan buang air besar ke dalam usus. Permasalahannya adalah jika orang yang terkena penyakit tersebut, siklus penyakitnya sulit hilang, terutama jika masih ada kebiasaan buang air besar sembarangan. Telur-telur dari larva itu dibuang melalui kotoran manusia atau hewan kemudian dia berkembang menjadi ovum.

Dijelaskan lebih lanjut, keong tersebut memiliki ukuran yang sangat kecil sekira empat milimeter. Siput ini hidup di bekas sawah-sawah yang tidak dipakai, di tanah yang lembab, disemak-semak atau di bawah humus-humus.

Berdasarkan Data Kementerian Kesehatan, prevalensi penyakit tersebut kecil sekali sekira 0,65 sampai 0,97%. Sementara itu, angka infeksi yang diperantarai oleh keong masing-masing sekira 1,2-10,5% dan 5,5-40%.

Sebagai langkah pencegahan, penduduk harus menjaga sanitasi supaya lebih higienis. Pada dasarnya cacing suka berkembang biak di bagian keong yang tempatnya jorok.

Namun faktanya, di daerah yang tengah dilanda demam keong tersebut hampir tidak memiliki sanitasi yang baik. Daerah tersebut bisa dikategorikan sebagai wilayah endemis demam keong yang meresahkan.

BACA JUGA:

Munculnya Samar, Gejala Kanker Paru Tidak Boleh Diabaikan

"Masyarakat harus menyediakan sarana air bersih dan sanitasi yang memadai dan mudah dijangkau," tuturnya.

Penyakit demam keong ini akan sulit diberantas jika perilaku masyarakat tidak berubah. Serta, Sigit mengimbau agar masyarakat yang punya hewan ternak membuat kandang yang layak.

(Dinno Baskoro)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya