Dalam dunia medis, fenomena ini dikenal dengan istilah superfetasi yang artinya kehamilan ganda. Biasanya kejadian ini terjadi pada hewan mamalia dan jarang sekali terjadi pada manusia. "Ini sangat jarang terjadi dan tidak banyak laporan mengenai hal ini. Bahkan saya tidak bisa memberikan data statistiknya. Pada perempuan hamil biasanya terjadi perubahan hormon yang mencegah tubuh untuk berovulasi. Tapi jika ovulasi tetap terjadi dan sel telur itu menjadi subur lalu terbuahi, maka dia bisa mengalami kehamilan ganda," ujar Christine Greves, MD, seorang ob-gyn seperti yang dikutip dari Health, Senin (6/11/2017).
BACA JUGA:
Menurut ob-gyn lainnya, Sherry Ross, MD, alasan perempuan tetap berovulasi saat sedang hamil tidak dipelajari dengan baik. "Sulit untuk menemukan literatur tentang topik ini. Hal ini sering dikaitkan dengan hal mistis karena bertentangan dengan apa yang diketahui secara medis tentang kehamilan. Tapi sebenarnya, tidak semua fenomena medis memiliki penjelasan yang masuk akal termasuk tentang superfetasi karena kontroversial dan sulit dibuktikan," tuturnya.
Umumnya superfetasi tidak dapat dideteksi. Meskipun dalam sebuah laporan kasus superfetasi diungkapkan bahwa gestasi pada janin kedua terjadi setelah 28 hari janin pertama berkembang, hal ini tidak bisa dijadikan acuan. Selain itu, pemeriksaan melalui ultrasound yang semula hanya menunjukkan satu janin dan di pemeriksaan selanjutnya menunjukkan ada dua janin tidak dapat pual dijadikan penanda. Sebab mungkin saja dokter lalai atau melewatkan janin kedua pada pemeriksaan pertama.
Dalam kasus Jessica, untuk membuktikan jika kedua bayi memiliki ayah yang berbeda harus dilakukan tes genetik untuk memberikan hasil yang pasti. Tapi semua mungkin tidak bisa berjalan mulus karena bisa saja ada pihak yang tidak menerima hasil tidak biasa tersebut. Beruntung Jessica bisa mendapatkan kembali anak kandungnya setelah melalui pertempuran emosional selama dua bulan.
(Santi Andriani)