SLEMAN - Puncak acara upacara adat Ki Ageng Wonolelo di Pondok Wonolelo, Widodomartani Ngemplak, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Jumat 27 Oktober 2017, akan disemarakkan aksi penebaran 1,5 ton apem untuk diperebutkan oleh masyarakat dan pengunjung yang hadir.
"Event budaya yang spektakuler ini merupakan penyelenggaraan yang ke 50 kalinya dalam rangka memperingati dan mengapresiasi perjuangan Ki Ageng Wonolelo di masa silam," kata Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman Aji Wulantara, Rabu (25/10/2017).
Menurut dia, rangkaian upacara adat Ki Ageng Wonolelo telah digelar sejak 13 Oktober 2017 yang ditandai dengan pengajian akbar oleh Al Ustadz H Habib Mussofha dari Cilacap Jawa Tengah.
"Pengajian sebagai upaya meneruskan perjuangan Ki Ageng Wonolelo sebagai ulama besar dan penyebar agama Islam," katanya.
Ia mengatakan, puncak acara saparan berupa Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo yang sampai saat ini masih tersimpan di Dusun Wobolelo.
(Baca Juga: Robin Lim, Pahlawan Ibu Hamil dari Amrik, Dedikasikan Hidup untuk Wanita Indonesia)
"Maksud dan tujuan upacara adat Saparan dan Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo untuk mendukung wisata budaya di Kabupaten Sleman pada khususnya dan di DIY pada umumnya," katanya.
Ia mengatakan, selain itu kegiatan tersebut digelar juga untuk mengajak generasi muda menggali dan lebih memahami nilai-nilai seni budaya yang adiluhung serta untuk memberikan wahana bagi pertumbuhan kesenian rakyat serta menumbuhkan rasa handarbeni dan kecintaan terhadap seni budaya bangsa sendiri.
"Kegiatan itu juga dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sebagai pelaku ekonomi selama aktivitas kegiatan berlangsung," katanya.
Ketua Panitia Upacara Adat Ki Ageng Wonolelo, Wartono, mengatakan menurut sejarah diceritakan bahwa Ki Ageng Wonolelo dengan nama asli Jumadi Geno merupakan seorang keturunan Prabu Brawijaya V sekaligus sebagai tokoh penyebar agama Islam pada masa kerajaan Mataram.
"Ki Ageng Wonolelo bermukim di Dusun Pondok Wonolelo, memiliki ilmu kebatinan yang tinggi pada masa itu. Karena memiliki ilmu yang tinggi, ia pernah diutus Raja Mataram ke Kerajaan Sriwijaya di Palembang yang saat itu membangkang terhadap Mataram," katanya.
(Baca Juga: Sandiaga Uno Sayembarakan Sepatu Pantofel untuk Kerja, Ini Syaratnya!)
Ia mengatakan, Ki Ageng Wonolelo berhasil menaklukkan Kerajaan Sriwijaya. Nama Ki Ageng Wonolelo atau Jumadi Geno semakin tersohor dari waktu ke waktu sehingga semakin banyak orang yang berdatangan untuk berguru kepadanya.
"Sebagai seorang panutan Ki Ageng Wonolelo yang memiliki ilmu tinggi, Ki Ageng Wonolelo banyak mewariskan berbagai peninggalan berupa tapak tilas dan pusaka dan benda keramat lainnya. Pusaka, jimat dan berbagai benda keramat peninggalan Ki Ageng Wonolelo inilah yang kemudian dikirabkan setiap bulan Sapar pada setiap tahunnya," katanya.
Wartono mengatakan, dalam puncak Upacara Adat Ki Ageng Wonolelo tersebut akan dilaksanakan kirab pusaka Ki Ageng Wonolelo, kirab Gunungan, Kirab Keprajuritan, tari dan fragmen.
Di antara pusaka peninggalan Ki Ageng Wonoelo yang akan dikirab adalah kitab Suci Alquran, Baju Onto Kusuma, Kopyah, Bongkahan Mustoko Masjid dan tongkat. Kirab diawali dari Masjid Pondok Wonolelo menuju Makam Ki Ageng Wonolelo sepanjang 800 meter.
"Sedangkan penyebaran apem seberat 1,5 ton sebagai simbolisme sedekah akan diperebutkan oleh pengunjung yang dianggap dapat mendatangkan keberkahan dan keberuntungan hidup," katanya.
(Muhammad Saifullah )