SETIAP negara tentunya memiliki menu sarapan yang unik seperti Indonesia dengan olahan nasi uduk dan bubur ayamnya. Nah, masyarakat China ternyata sangat gemar mengonsumsi jianbing atau olahan pancake goreng.
Jika Anda belum terlalu familiar dengan kudapan yang satu ini, jianbing merupakan salah satu jenis street food paling populer di Negeri Tirai Bambu yang terbuat dari adonan renyah bertekstur tipis, campuran telur dan tepung gandum. Untuk isiannya ada irisan daging babi, scallions, mentimun, lalu disajikan dengan saus sambal bercita rasa asin untuk memperkaya rasanya.
Dari segi rasa, jianbing menyuguhkan sensasi rasa pedas, renyah, dan gurih yang bisa memanjakan perut Anda sebelum melakukan aktivitas. Makanan ini memang merupakan menu sarapan wajib yang kerap disantap para pekerja keras di China di pagi hari.
Berbicara soal jianbing, baru-baru ini para netizen dibuat terkejut oleh pengakuan salah satu penjual makanan tersebut. Berdasarkan pengakuannya, ia mampu meraih keuntungan sebesar 30.000 yuan atau setara dengan Rp61,2 juta per bulan dari hasil penjualan jianbing.
“Saya bisa menghasilkan uang, tetapi tidak mungkin saya menggunakan kurang dari satu telur untuk membuat jianbing Anda,” ujar pedagang itu, sebagaimana dilansir dari World of Buzz, Senin (2/10/2017).
Jika klaim tersebut benar-benar terbukti, ini berarti bahwa pemasukkan tahunan pedagang jianbing cenderung lebih besar dibandingkan para pekerja kantoran. Apabila diakumulasi dalam kurun waktu satu tahun, para pedagang jianbing dapat meraup kuntungan sebesar 360.000 yuan atau Rp204,1 juta per tahun.
BACA JUGA:
Setelah ditelusuri, ternyata masih banyak pedagang jianbing yang meraup keuntungan jauh lebih besar dibandingkan angka diatas. Seorang pedagang bernama Jia Xiuying mengaku menjual jianbing dengan harga 8 yuan (Rp16 ribu) – 21 yuan (Rp42 ribu) per buah. Pemasukkan perbulannya paling tidak sebesar 100 ribu yuan atau Rp204 juta. Bayangkan jika angka tersebut diakumulasikan dalam kurun waktu satu tahun.
Namun, tentu saja bisnis tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan. Xiuying juga mengaku mengalami masa-masa sulit ketika baru membuka bisnis street food itu.
“Aku mulai berbisnis jianbing pada 2001 lalu. Pada masa itu kondisi ekonomiku sangat memprihatinkan, aku hanya bisa berinvestasi di jianbing. Pasalnya, makanan ini hanya membutuhkan sedikit modal dan biayanya rendah,” ujar Xiuying.
Seiring berjalannya waktu, bisnis jianbing miliknya pun berkembang pesat. Xiuying bisa menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi dan berlibur ke luar negeri. Ia juga bisa membeli rumah dan mobil dari hasil bisnis makanan lezat tersebut.