KHASANAH wastra Nusantara atau kain tradisional Indonesia memang sungguh beragam. Mulai dari Sabang hingga Merauke, setiap daerah memiliki ciri khas kain tersendiri, misalnya batik, tenun, songket, dan lainnya.
Memiliki ragam kain tradisional yang sangat beragam, membuat sejumlah perancang mode Indonesia turun tangan memasukkan unsur-unsur kain tradisional dalam setiap rancangannya. Tujuannya, entah untuk kepentingan peragaan busana, melakukan kolaborasi dengan organisasi pemerhati kain tradisional atau pemerintah daerah, atau ingin mengenalkan wastra Nusantara pada publik yang lebih luas.
Lantas, siapa sajakah perancang mode yang konsisten memiliki signature atau ciri khas mengusung kain tradisional dalam setiap koleksi rancangannya? Berikut adalah beberapa di antaranya pilihan Okezone.
BACA JUGA:
Obin (Bin House)
Josephine Werratie Komara atau yang akrab disapa Obin, merupakan salah seorang desainer yang dikenal konsisten mendedikasikan dirinya dalam berkreasi dengan kain khas Indonesia. Obin kerap memadukan indahnya batik dan kebaya dalam format yang lebih modern dan stylish.
Obin yang tak ingin disebut sebagai perancang mode melainkan sebagai kolektor kain Indonesia ini memiliki keunikan dan ciri khas dalam merancang busana. Ia berprinsip jika semua koleksi tak terpaku pada tren yang sedang berkembang. Ia tidak memiliki patokan dalam merancang sejumlah busana. Apa yang lahir dari dalam hatinya, Obin utarakan melalui busana dan ukiran batik di atas selembar kain sutra yang dirancang sendiri dengan tangannya.
Obin pernah merancang kebaya yang dimodifikasi sehingga memiliki daya tarik tersendiri bagi anak muda. Obin menambahkan selendang yang hadir dalam pola dan potongan yang berbeda, dengan tambahan draperi dan teknik lipatan serta aksen kerutan yang menghasilkan selendang dengan kombinasi bentuk bunga yang indah.
Edward Hutabarat
Desainer yang akrab disapa Edo ini bisa dibilang sebagai pemain senior di Indonesia yang selalu mengangkat keindahan kain wastra Nusantara. Tak hanya menjadi desainer yang mengolah kain, ia pun dikenal sebagai kurator seni dan mengumpulkan keindahan wastra dari berbagai wilayah di Indonesia.
Selama 35 tahun malang melintang di industri mode Indonesia, pada 2016 lalu ia sempat menguatkan eksistensinya dengan menggelar pagelaran busana dan pameran batik. Kemudian, pada awal 2017, ia menampilkan ribuan koleksi kain dari Sumba Barat Daya dan Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.
Seolah tiada lelah mengeksplor kain wastra Nusantara, ia pun mencoba memperlihatkan keunikan dan pesona kain lurik. Demi membuat lurik lebih dikenal masyarakat luas, ia menyelenggarakan pameran dan fashion show koleksi busana terbarunya yang terbuat dari lurik.
Lenny Agustin
Nama Lenny Agutsin di jagad fesyen Tanah Air bisa dibilang memberi suasana baru penuh warna dalam dunia industri mode Indonesia. Kecintaannya pada kekayaan budaya Nusantara, seperti ragam tekstil, upacara adat, kesenian tradisional, hingga kerajinan tangan membuat ibu dari tiga orang anak ini selalu memasukkan unsur lokal pada karyanya.
Dalam pemilihan material, ia menyukai batik, tenun, sarung, lurik, songket, yang dikombinasikan dengan aplikasi-aplikasi unik ciri khasnya. Hasilnya, tampilan busana yang menggunakan kain tradisional sebagai material dasarnya memberikan tampilan yang unik, playful, menginspirasi, serta terlihat modis saat dikenakan. Tak hanya dapat dikenakan dalam acara-acara tertentu, busana rancangannya juga bisa digunakan sebagai busana sehari-hari.