SEBAGAI seorang perancang mode, sudah seharusnya perlu memperlihatkan dedikasi dan tanggung jawab besarnya dengan menggelar peragaan busana secara rutin sebagai pernyataan modenya. Hal ini pula yang dilakukan oleh desainer Hian Tjen.
Ya, sukses menggelar peragaan tunggal perdana pada 2015 lalu, Hian Tjen kembali menggelar peragaan busana bertajuk Magellani. Magellani sendiri memiliki arti galaksi kecil yang mengitari bima sakti. Sesuai maknanya, magellani terinspirasi dari keindahan bima sakti atau milky way.
BACA JUGA:
Kala itu, desainer kelahiran 1985 ini tengah traveling ke Maroko. Saat menginap di tengah padang gurun, Hian sempat terbangun sebelum matahari terbit kemudian menatap ke langit.
Lewat mata teleskop, Hian mendapati susunan bintang seolah menyerupai jalur bintang yang menuju ke arah selatan. Keindahan dan kecantikan galaksi tersebut yang menimbulkan rasa takjub pada Hian.
Kekaguman Hian tak sampai disitu, ia juga dibuat terpana oleh cerita romantis yang terselip di baliknya. Di mana jalur bintang tersebut merupakan seorang mahadewi bernama Lindu yang jatuh cinta pada ketampanan Cahaya Utara, namun menangis patah hati karena kekasihnya tak berkepastian.
Ia pun menjelma menjadi sesosok dewi yang memimpin kawanan burung yang terbang dari Utara ke Selatan. Jejak air mata sang Dewi menjadi jalur migrasi burung-burung untuk berpindah dari tempat dingin ke area yang hangat.
“Dari inspirasi tersebut saya berkeinginan bila suatu saat akan membuat koleksi yang ada hubungannya dengan ini,” ujar Hian Tjen sebelum peragaan busana Couture 2017-2018 di Raffles Hotel, Jakarta Selatan, Rabu 6 September 2017.
Berbeda dengan koleksi busana pada dua tahun lalu, koleksi adi busana Hian kali ini bergaris desain lebih ringkas, ringan, dan lebih kekinian. Meski terkesan sederhana dan ringkas, namun justru menghadapkannya pada tingkat kesulitan ketika menciptakan busana yang sarat akan unsur dekoratif. Pasalnya, ia dituntut menangkap esensi siluet yang ingin ditampilkan.
“Koleksi yang sekarang mengikuti tren di dunia mode, di mana baju dibuat lebih simpel. Simpel tapi terlihat eye catching, teknik pengerjaannya pun tinggi. Jadi, walaupun cutting-annya biasa, tetapi tekniknya bisa berkali-kali,” paparnya saat jumpa pers.
Detail busana disematkan hanya sebagai penguat desain. Hal ini terlihat dari 59 koleksi yang dihadirkan. Di antaranya jaket berlengan lonceng yang dipadu rok lebar klok dari bahan flannel, atau terusan span berbahan tipis, yang sempat tren era 1940-an.
Pada busana lain, Hian menampilkan torso transparan pada busana bersiluet lurus serta gaun-gaun malam panjang dengan rok tumpuk di atas bahan tulle yang memberi kesan sosok seorang dewi.
Rok tumpuk hadir pula dalam lipit-lipit dan aksen fringe yang disusun helai demi helai hingga berjajar rapi di atas busana. Aksen fringe yang dipadankan pada material busana menyerupai jerami kaku menghasilkan rancangan yang memberi kesan luwes.
Ada pula sebuah jaket lebar bertuliskan citra tokoh gadis Lindu di antara lambang astrologi hasil sulam tangan yang dijadikan sebagai aksen. Kekayaan sulam tangan dan bordir semakin menguatkan rancangan blus, rok, dan gaun-gaun yang saling berpadupadan dalam garis rancangan yang simpel.
Hiasan kristal Swarovski, payet, bebatuan, hingga bulu-bulu di atas busana menjadikan seluruh tampilan koleksi terlihat cantik rupawan. Hian menggunakan material busana seperti silk gazar, scuba, hingga tipis seperti tulle. Ragam material tersebut dipotong kemudian disusun menjadi motif baru yang dipadu dalam warna-warni berbeda.
Untuk warna yang digunakan, desainer yang tergabung dalam Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) ini memilih warna dusty pink, slate blue, midnite blue yang disisipkan warna keemasan dan keperakan. Seluruh warna busana tersebut seolah menceritakan fenomena alam saat senja menjelang dan malam menutup hari.
Pria 32 tahun ini menggandeng seorang illustrator asal Bali, Ian Permana, untuk membantu menuangkan inspirasinya dalam motif-motif busana yang diinginkan. Misalnya, ilustrasi si gadis Lindu, burung-burung, planet, bulan, rasi bintang, lambang astrologi, dan awan-awan agar menjadi tokoh yang dihidupkan demi mengayakan khayal Hian di atas material busana.
BACA JUGA:
Motif tersebut kemudian dicetak dengan teknik digital printing di atas kain sutra. Agar hasilnya maksimal, proses pencetakan dilakukan di Italia.
“Karena kalau cetak di Indonesia, hasilnya sangat jauh dari kualitas yang diinginkan. Mungkin karena teknologi di sini belum memadai,” kata Hian.