RASANYA hampir seluruh masyarakat Indonesia tentu sudah sangat memahami, bahwa bangsa Belanda menjadi bangsa yang menjajah Indonesia paling lama. Ya, sebelum akhirnya menyerah pada Jepang pada 1942 dan hingga akhirnya bangsa Indonesia bisa mengumandangkan hari kemerdekaannya pada 17 Agutus 1945, Belanda memang telah berhasil menduduki Indonesia selama ratusan tahun.
Menjajah selama ratusan tahun, pastinya bangsa Belanda sedikit banyak baik secara sengaja ataupun tidak telah memasukkan banyak tradisi dan budaya mereka, terhadap masyarakat Indonesia. Salah satu contohnya, di bidang kuliner.
Bukan rahasia lagi, bahwasanya banyak kuliner Indonesia zaman dahulu lahir sebagai hasil penetrasi bangsa Belanda pada saat zaman penjajahan dulu, seperti salah satu contohnya adalah bistik Jawa. Seperti diketahui, secara tampilan hidangan satu ini tidak berbeda dengan sajian steak khas hidangan western zaman sekarang namun kuliner zaman penjajahan satu ini hadir dengan nama yang sangat Indonesia, yakni dengan menggunakan nama salah satu pulau di Indonesia.
Lalu apa sebetulnya apa sih yang disebut dengan bistik Jawa tersebut? Menjawab pertanyaan ini, maka Okezone pun bertanya langsung kepada salah satu chef ternama Indonesia, Vindex Tengker.
“Bistik Jawa ini sendiri adalah makanan seperti daging steak, namun dibuat lebih kayak burger lah kalau sebutannya sekarang jadi bistik Jawa ini ke jenis patty yaitu daging sapi yang dicincang dan dikasih bumbu-bumbu rempah, seperti pala,” jelas Vindex saat ditemui baru-baru ini di bilangan Jakarta Pusat.
Chef yang dikenal sebagai ketua dewan panelis juri kontes memasak terkenal MasterChef Indonesia ini menambahkan, layaknya sajian daging steak khas Western zaman sekarang. Bistik Jawa juga disajikan bersamaan dengan gravy atau saus siram.
“Bistik ini juga ada gravy nya, walau Western namun cita rasanya ya bumbu rempah-rempah Indonesia. Terus disantap dengan kentang tumbuk alias mashed potato, dari zaman dahulu sampai sekarang sajiannya sudah begitu memang, yak arena pengaruh dari Belanda,” tambahnya.
Lebih lanjut disebutkan, dari dahulu saat hadir di zaman penjajahan Belanda. Bistik Jawa memang muncul sebagai jenis kuliner mewah, atau dengan kata lain bukan jenis makanan jelata yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia pada umumnya.
“Kalau ditanya ini termasuk makanan mewah atau tidak, ya jelas ini salah satu makanan mewah karena kan zaman dahulu yang bisa membeli daging siapa? Hanya orang-orang berduit, hanya orang-orang yang mempunyai kedudukan atau pangkat yang tinggi. Kalau masyarakat biasa, pasti hanya kebagian ampas atau sisanya, makanya soto itu kita banyak pakai jeroan, usus, karena notabene daging yang bagus-bagus sudah diambil oleh orang-orang yang punya uang atau kaum ningrat tersebut,” imbuhnya.
Imej akan makanan mewah yang melekat pada bistik Jawa ini sendiri, tidak dipungkiri memang masih mengakar kuat hingga sekarang. Walaupun, seiring dengan perkembangan zaman hidangan bistik Jawa tentunya sekarang di era modern ini sudah banyak dijual oleh restoran-restoran sehingga lebih mudah didapatkan.
“Sampai sekarang memang masih mengakar imej sebagai makanan mewah, sudah banyak juga dijual di restoran. Walaupun standarisasinya tidak setinggi standarisasi zaman dahulu ya, kualitasnya tidak se-high dulu saat zaman Belanda. Sekarang kan sudah dicampur, jadi secara harga tidak semahal dulu,” tandas Vindex sembari tersenyum.