BAGI yang sudah mengenal Jepang, tentu mengenal salah satu persimpangan teramai dan tersibuk di dunia. Ya, persimpangan Shibuya. Di persimpangan Shibuya banyak orang yang lalu lalang, diperkirakan sekira 2 juta orang melalui persimpangan tersebut setiap harinya.
Sebagaimana persimpangan jalan pada umumnya, persimpangan jalan Shibuya sangat ramai. Banyak orang yang melakukan aktivitas, para pejalan kaki tumpah ke jalan, menyeberang dari satu tempat ke tempat lainnya. Pertukaran informasi begitu cepat terjadi setiap detiknya. Tanpa ada kata yang saling terlontar, antar manusia saling berkomunikasi melalui tatap dan gerak.
Hectic-nya antar manusia yang saling menyeberang ini memberi perspektif berbeda bagi seorang Tri Handoko. Ya, aktivitas orang-orang menyeberang tersebut nyatanya menjadi kecantikan sejati yang tertangkap mata Tri Handoko, Creative Director Austere by 3 Handoko untuk mengangkat humanisme ke dalam koleksi Fall/Winter 2017/2018 bertajuk 'Intersection'.
BACA JUGA:
"Kebetulan beberapa bulan yang lalu saya baru melakukan perjalanan ke Tokyo. Saat itu enggak pernah terpikir untuk mengangkat tema ini. Kemudian, inspirasi ini muncul begitu saja melihat hectic-nya persimpangan jalanan Shibuya. Betapa sibuknya manusia-manusia saling crossing, bagaimana humanisme terlihat dari persimpangan Shibuya, lalu diterjemahkan ke dalam bentuk koleksi fesyen," papar Tri Handoko dalam jumpa pers di Qubicle Center, Senopati, Jakarta Selatan, Rabu 9 Agustus 2017.
Dalam koleksi ini, Austere menghadirkan potongan busana berstruktur unisex (busana untuk pria dan wanita) dengan siluet modern nan klasik. Misalnya, blazer, celana baggy, outerwear, trench coat, biker jacket, crop top asimetris, celana cropped berpotongan lurus, hingga shirt dress.
Melihat manusia sebagai sosok yang penuh eksplorasi, Austere menyuguhkan ekspresi keseharian manusia di antara kesibukan dan tekanan tinggi kehidupan modern. Wajah datar dan langkah tergesa-gesa terpola sebagai sebuah standar humanis. Namun, di antara keramaian tersebut, melekat individu yang menyendiri. Sehingga koleksi ini tetap memberi kesan dingin melalui permainan warna hangat yang dipilih.
"Banyak manusia yang menyeberang di saat itulah kita bisa melihat banyak emosi. Entah mengapa di keramaian tersebut, salah satu yang melekat adalah kesendirian. Perasaan kesendirian ini diterjemahkan pada warna," tambah desainer yang tergabung dalam IPMI, Ikatan Perancang Mode Indonesia, itu.
Tak hanya itu, penggambaran individu yang sendiri juga diterjemahkan pada detail kamuflase. Detail kamuflase dipilih sebagai makna di antara ribuan manusia yang membentuk pola acak saling bertemu di persimpangan Shibuya, di mana setiap individu berkamuflase di balik individu yang lain.
Detail kamuflase tersemat pada beberapa bagian busana. Perpaduan motifnya memberi kesan kuat, pada permukaan warna-warna busana yang natural, seperti coklat, hijau, biru muda, abu, dan putih.
BACA JUGA:
Potongan lengan drop shoulder, sentuhan buckle dengan tali menjuntai di setiap celana, serta perpaduan kain bermotif membaur pada palet natural monokrom. Potongan trench coat dengan detail kamuflase di bagian belt. Ada pula celana dengan detail kantong bercorak camo yang terdapat di bagian depannya.
Teknik bordir berbentuk huruf kanji bertuliskan 'Intersection' dan 'Shibuya' dipilih untuk menjadi hidden detail di beberapa outfit.
"Ciri khas saya ada pada detail yang tak terlihat sehingga memberi ciri khas bagi pemakainya. Detail ada tersembunyi, misalnya pada tali buckle, detail ritsleting, detail drapped," terang pria berkacamata ini.