Tak hanya di pinggiran sungai. Zat kimia klorin, campuran serbuk kayu dan kertas bekas yang terdapat pada ampas pembalut sekali pakai menimbulkan pencemaran perairan akibat limbah pembalut sekali pakai. Banyaknya masyarakat Inonesia yang masih menggunakan air sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari hal ini bisa menimbulkan penyakit kulit.
Tanpa perlu mencemari lingkungan baik di darat maupun di perairan, celana dalam "antipembalut" ciptaan mahasiswi IPB ini bisa digunakan berkali-kali. Celana dalam ini bisa dicuci seperti mencuci celana dalam biasa.
Menurut Zahiroh, celana dalam "antipembalut" ini tidak mempunyai efek samping, karena berprinsip untuk menjaga kesehatan reproduksi wanita dan mengurangi pencemaran lingkungan. Celana dalam ini juga mencegah berbagai penyakit yang timbul dari pembalut sekali pakai.
Celana dalam "antipembalut" telah diuji daya serapnya dengan menggunakan darah hewan yang relatif sama dengan darah manusia.
Empat mahasiswi IPB ini menyebutnya "No Wori" bagi si celana dalam "antipembalut" yang ramah lingkungan. Mengapa di namakan "No Wori"? "No Wori" artinya produk ini tidak perlu dikhawatirkan akan menimbulkan pencemaran lingkungan, bagi wanita tidak perlu khawatir terhadap iritasi di daerah kewanitaan yang dapat mengakibatkan penyakit kanker serviks, wanita juga tidak perlu khawatir tembus atau basah saat menggunakan celana dalam ini.
Produk celana dalam "antipembalut" "No Wori" ini merupakan program terusan dari program karsa cipta menjadi program kewirausahaan, sehingga produk ini bisa dipasarkan dan dikenal masyarakat untuk memaksimalkan tujuan diciptakannya celana dalam anti pembalut "No Wori" yaitu mengurangi pencemaran limbah "pembalut" sekali pakai.