Imunoterapi, Cara Baru Basmi Sel-Sel Kanker Paru-Paru

Tiara Putri, Jurnalis
Jum'at 16 Juni 2017 16:04 WIB
Ilustrasi (Foto: Letswinpc)
Share :

KANKER paru-paru di Indonesia terbilang cukup tinggi. Sebagian besar yang menderita penyakit ini adalah mereka yang merokok.

Umumnya kanker ini tidak bisa dideteksi sejak awal. Pasien terdeteksi terkena kanker paru-paru saat stadium IV/lanjut sehingga tindakan bedah sudah tidak bisa dilakukan. Pasien harus menjalani serangkaian pengobatan.

Pengobatan lini pertama pasien kanker paru-paru ada beberapa pilihan yaitu kemoterapi, targeted therapy, dan kombinasi kemoterapi dengan radioterapi. Pengobatan lini pertama pada pasien kanker paru-paru bisa berbeda antara satu dengan yang lainnya, tergantung dari jenis dan marker molekulernya. Jika sudah dilakukan pengobatan lini pertama namun tumor malah membesar, maka pengobatan harus diganti dengan terapi lini kedua.

Terapi lini kedua untuk pasien kanker paru-paru yang baru-baru ini masuk ke Indonesia adalah imunoterapi. Terapi ini menghambat interaksi antara sel T dengan tumor sehingga sel T bisa mendeteksi dan membasmi sel-sel kanker. Hal inilah yang membuat pasien dengan pengobatan imunoterapi bisa bertahan hidup lebih lama.

Imunoterapi diberikan setiap tiga minggu sekali selama enam siklus. Setiap enam siklus, imunoterapi akan dievaluasi. Apabila imunoterapi menunjukkan hasil yang baik, terapi bisa dilanjutkan. Imunoterapi diberikan melalui infus sehingga pasien tidak perlu dirawat.

Karena sifatnya yang bisa meningkatkan imunitas, imunoterapi bisa menyebabkan terjadinya auto imun. Efek samping lain yang bisa terjadi adalah peradangan di paru. Namun, kedua efek samping ini jarang terjadi. Bila terjadi efek samping, harus dihentikan pemberian obat karena yang utama adalah keselamatan pasien.

Di Indonesia, obat yang sudah diisetujui oleh BPOM untuk imunoterapi adalah Pembrolizumab. Obat ini dikeluarkan oleh MSD Indonesia untuk mengobati kanker paru karsinoma bukan sel kecil (KPKBSK) dengan stadium lanjut PD-L1 positif. Dari hasil penelitian, pemberian obat ini bisa menyebabkan kurangnya nafsu makan, mual, dan ruam kulit. Tapi, Pembrolizumab memiliki efek samping yang lebih rendah dibanding kemoterapi.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya