JIKA menelusuri kawasan Kota Tua pasti Anda akan melihat Kali Besar sebelum masuk melalu pintu Kantor Pos. Kali ini sudah tak terlihat lagi karena sedang dibangun proyek transportasi DKI Jakarta.
Namun, ketika berjalan melewati kali menuju Stasiun Kota, traveller pasti melihat bangunan-bangunan tua di sana. Bangunan yang berjajar rapih itu merupakan saksi bisu para penjajah, seperti Portugis, Belanda, Inggris, dan Jepang yang saat itu rebutan lahan perekonomian di kawasan Kali Besar.
Ya, Kali Besar dulunya memiliki sebutan De Groote Rivier, di sana aliran kali yang besar dijadikan tempat jalur perahu-perahu yang membawa rempah-rempah menuju Pelabuhan Sunda Kelapa. Wajar saja kawasan ini menjadi rebutan, karena komoditi rempah di Batavia waktu itu dikuras kemudian dijual ke seluruh pelosok dunia.
Untuk membatasi perperangan, maka dibangunlah sebuah jembatan merah yang sekarang dikenal dengan Jembatan Kota Intan, untuk menjadi benteng pertahanan sekutu Inggris, yang beseberangan langsung dengan Belanda. Jembatan kayu itu hingga kini masih terlihat kokoh, dan ketika perahu hendak lewat, jembatan kemudian dinaikan.
Tak heran jika bangunan yang mengeliling sepanjang arus Kali Besar begitu besar, dan bernuansa kolonial. Dulunya, gedung yang ada merupakan rumah penduduk, bengkel perahu, hingga gudang untuk menyimpan rempah-rempah.
Dulunya juga, kawasan ini, dianggap sebagai daerah elite karena banyak orang kaya dan bangsawan bermukim di sana. Para nyonya besar, serta nyai-nyai Belanda dulunya menggunakan rok kurung yang sangat mewah menggunakan perahu yang melintas di perkotaan untuk keliling kampung, dan menyambangi kerabat.
Kali Besar ini dulunya dideskripsikan sangat rapih, tertata, dan bersih, sehingga sering juga dijadikan tempat kencan anak muda selama di sana. Terbayang kan dulunya kali ini seindah apa, mungkin jika masih dijaga Jakarta sudah seperti Venesia, Italia.
Rumah elite di sana hingga sekarang juga masih beberapa yang kokoh, salah satunya Toko Merah yang berada di dekat Halte Kali Besar. Bangunan ini dulunya punya petinggi Belanda, kemudian dijadikan tempat berjualan oleh warga China, Oey Liauw Kong sejak abad 19.
Bangunan ini dinamakan Toko Merah karena batu bata merah yang menjadi unsur utama dari gedung. Namun, di tahun 1755, toko menjadi sebuah kampus dan asrama Academie de Marine sebuah akademi angkatan laut.
Dan berubah lagi di tahun 1786 sampai 1808 yang dijadikan sebuah hotel. Banyak sejarah yang dituangkan dari Toko Merah ini, bahkan dulu juga sempat dijadikan balai kesehatan saat masa pendudukan Jepang di Batavia.
Tetapi, di luar sejarah yang indah, ada juga sejarah mengerikannya. Ketika zaman VOC, masyarakat Tiongkok semakin banyak mengais peruntungan di Jakarta, sehingga mereka harus membatasi warga China yang masuk, namun itu mendapat perlawanan dari China.
Alhasil, para tentara Belanda diperintahakan untuk membunuh dan membantai etnis Tionghoa saat itu. Toko Merah ini menjadi tempat pembantaian, pemerkosaan, dan penyiksaan pada etnis Tionghoa.
Begitu pilu dan kejam sejarah yang terjadi ratusan tahun ini. Sekarang, bangunan sudah dilakukan pemugaran yang membuatnya lebih modern, dan ciamik untuk diabadikan.