Mengupas Sejarah Jalan Perniagaan Glodok

Tentry Yudvi, Jurnalis
Kamis 09 Februari 2017 20:46 WIB
Jalan Perniagaan, Glodok (foto: Tentry Yudvi/Okezone)
Share :

JIKA berwisata ke kawasan Glodok, Jakarta Barat tak ada salahnya melipir ke Jalan Perniagaan. Di sana terdapat sejarah perkembangan masyarakat Tionghoa di Batavia atau Jakarta tempo dulu.

Suasana jalanan besar ini, penuh dengan gedung-gedung pertokoaan, yang bercampur dengan rumah penduduk. Toko klontong hingga restoran khas Tionghoa juga bisa ditemukan ketika blusukan ke Jalan “legenda” ini.

Penasaran ada apa saja di Jalan Perniagaan? Yuk simak rangkuman Okezone berikut ini.

Asal usul jalan Perniagaan

Saat zaman penjajahan Belanda, jalanan ini punya nama “Patekoan”. Awalnya, ada seorang Kapiten Tionghoa yang tinggal di kawasan ini bernama Gan Djie. Nah, sang istri suka menyajikan delapan poci berisi air putih bagi siapapun yang kehausan untuk warga sekitar. Sebab, zaman itu, belum banyak ditemukan pedagang makanan dan minuman, dan keluarga ini pun dikenal dermawan oleh masyarakat.

Dari sana, Patekoan yang berarti delapan poci menjadi nama jalan ini. Tetapi, asal usul jalanan ini juga masih samar, karena ada versi sejarah lainnya yang terjadi di tahun 1740.

Kala itu, ada delapan pendekar asal Tionghoa tewas setelah perang dengan Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier. Saat itu, Adriaan memerangi kaum China dengan melakukan pembantaian bagi yang memberontak. Lalu, jenazah ke delapan pendekar tersebut dikubur di kawasan kampung Patiekie.

Setelah kemerdekaan terenggut dari Belanda, nama jalanan ini pun berubah menjadi Jalan Perniagaan hingga saat ini. Dan, tidak ada makna di balik nama itu, jika diambil dari makna Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata Perniagaan sendiri berarti perdagangan. Jadi sekarang hanya berbasis perekonomian karena kawasan di sana sudah padat toko.

Rumah Souw

Saat Anda memasuki kawasan perniagaan ada sebuah rumah tua dengan atap khas dengan ukiran Tiongkok, yang pada bagian atas batu bata ada ornamen berbentuk lancip. Pada bagian luar, pagar sudah berkarat dan cat rumah sudah usang. Kini, digunakan untuk lahan parkir para preman di sana.

Bagian atap rumah begitu menarik karena sekarang sudah jarang rumah yang memiliki atap melengkung dan lancip itu. Ternyata, di budaya Tionghoa dulu, rumah seperti itu menandakan jika pemilik rumah merupakan orang kaya raya, dan juga dipandang oleh masyarakat.

Benar saja, jika melihat sejarahnya, rumah tua usang tersebut merupakan milik keluarga kaya raya dari keluarga Souw, dan sepasang adik kakak, Souw Siauw Tjong dan Souw Siauw Keng merupakan sosok legenda di masyarakat Tionghoa saat masa penjajahan.

Souw Siauw Tjong kakak dari Souw Siauw Keng, dulunya terkenal sebagai orang paling dermawan, dengan mendirikan sekolah untuk anak-anak bumiputra di tanahnya. Tak hanya itu, di tahun 1875, ia menyumbang dana ke kelenteng Boen Tek Bio untuk melakukan pemugaran, ini juga terjadi di Kelenteng Kim Tek Le di tahun 1890.

Berkat aksi sosial dan dermawan dari Siauw Tjong, ia pun dapat juluan sebagai salah satu orang terkaya di Batavia. Kekayaan terdapat dari tanah yang dimilikinya di kawasan Paroeng Koeda, Kedawoeng Oost (Wetan), Ketapang, Tanggerang, dan Banten.

Aksi serta kekayaan itu, kemudian membuat pemerintah Belanda, memberikan gelar Luitenant de Chineezen ( Letnan orang Tionghoa), namun ditolak Siauw Tjong. Kemudian tahun 1877, Souw Siauw Tjong mendapatkan gelar Luitenant Titulair (letnan kehormatan).

Sementara sang adik, Souw Siauw Keng hanya mendapat gelar Luitenant de Chineezen di tahun 1844. Keduanya menjadi legenda hingga saat ini. Rumah tersebut mengingatkan kembali perkembangan sejarah Tionghoa di Batavia.

SMAN 19 Jakarta

Tak jauh dari Rumah Keluarga Souw, terdapat sebuah bangunan tua khas Tiongkok yang dijadikan sebagai gedung sekolah SMAN 19 Jakarta. Di bagian depan terdapat sebuah gapura berwarna putih usang dengan atap melengkung dan lancip, yang punya warna merah usang.

Kemudian saat masuk ke dalam gedung, ada tulisan S.M.A Negeri XIX, gedung ini bernuansa arsitektur Eropa yang bercampur dengan suasana Tionghoa. Di bagian pos saja, bentuk atap juga sama dengan atap gapura.

Terlihat anak-anak sekolah yang belajar di sana didominasi dengan keturunan Tionghoa. Mereka pun, menjadikan tempat pelataran sebagai tempat menunggu jemputan dan tempat nongkrong.

Gedung tua ini ternyata punya banyak sejarah yang luar biasa, khususnya untuk komunitas Tiong Hoa di Batavia. Sejarah mencatat tanggal 17 Maret 1900, tempat ini menjadi lokasi orang terkemuka dari komunitas Tionghoa untuk mendirikan Tiong Hoa Hwee Koan (THHK), yang merupakan organisasi China pertama di masa Hindia Belanda.

Cerita demi cerita mengatakan jika, THHK tersebut menjadi sumber inspirasi pembentukan Budi Utomo tanggal 20 Mei 1908, sebab tujuan dibangunnya THHK ini karena ingin mengangkat identitas Tionng Hoa dengan menyebarkan agama Kong Hu Cu.

Kemudian di tahun 1907, THHK ini membuat sekolah untuk masyarakat Tiong Hoa dan pribumi di Batavia yang disebut Tiong Hoa Hak Tong. Kehadiran sekolah ini juga menjadi sekolah pertama yang modern di Hindia Belanda. Dari sana, THHK kemudian mendirikan lagi sekolah Pa Hua di Batavia, dan ada juga sekolah THHK di Tegal.

Sekolah Pa Hua diperuntukkan untuk masyarakat Tiong Hoa dan juga Pribumi untuk belajar bersama. Mereka belajar aljabar, aritmatika, adat istiadat dan budaya Tionghoa.

Perjuangan untuk mengenalkan masyarakat Ting hoa pun mendapatkan hasil dengan pengakuan Gubernur Jenderal Hindia Belanda di tahun 1928, yang meresmikan istilah “Tiong Hoa” dan “Tiongkok”.

Namun, pada kejadian G30SPKI 1965, THHK Pa Hoa dianggap bekerja sama dengan Baperki, oleh karena itu tanggal 6 April 1966, sekolah kemudian berubah nama menjadi SMAN 19 Negeri Jakarta yang diambil ahli oleh Pemerintah Indonesia.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya