BANYAK peninggalan gedung tua dari zaman penjajahan Belanda masih tertinggal di Jakarta. Beberapa di antaranya bahkan menjadi tempat bersangkar para "hantu".
Misalnya saja Gedung Kementrian Keuangan yang berada di Kawasan Budi Utomo, Jakarta Pusat. Bangunan tua begitu terasa dari pintu masuk, dengan kehadiran ruangan balai yang begitu besar dan megah. Di tahun 1848 ruangan ini dijadikan kantor Mahkamah Agung, karena di area belakang merupakan tempat Jenderal Daendels bekerja.
Semakin dalam menelusuri Gedung Kementeran Keuangan ini, traveller akan takjub dengan kemewahan dan kemegahan gedung bak sebuah istana besar. Pilar-pilar tinggi berwarna putih serta jendela besar menghiasi gedung dan memberikan momen cantik untuk diabadikan.
Di bagian tengah antara Gedung Pembendaharaan dan ruang pertemuan terdapat sebuah gedung yang dinamakan Gedung A.A Maramis I. Di sini lah suasana Belanda seolah hadir karena adanya prasasti yang tertempel di pintu masuk bertuliskan nama Daendels bercampur bahasa Belanda.
Pintunya begitu besar, dan memiliki desain seperti peninggalan sejarah di Museum Kebaharian. Di mana pintu berbentuk setengah bundar, dan teralis besar-besar dipajang di sana. Gedung ini masih terbengkalai dan tidak terurus.
Seketika suasana mistis terasa ketika Okezone melongok ke dalam pintu, begitu gelap, dan pengap sekali di sana. Namun, rasanya tak lengkap jika tidak ditemani penjaga karena jika sendiri akan sangat menakutkan sekali.
Akhirnya bertemu dengan seorang penjaga bernama Ardi yang sudah 10 tahun menjaga di sana. Ia pun tak keberatan untuk diajak keliling museum.
"Sebelum masuk izin dulu yah dari dalam hati, dan izin juga mengambil foto," jelasnya ketika kaki sudah mengizinjak sebuah tangga besar untuk masuk ke dalam gedung.
Luar biasa sangat gelap, tak tebayang jika terjebak di sini sendirian. Ardi kemudian berhenti di sebuah tangga menuju lantai dua, dan apa yang dikatakannya begitu menyeramkan.
"Setiap malam jumat, di tangga ini None Belanda suka muncul, dan kepala jatuh gelundung ke bawah sering terjadi di area sini," jelasnya.
Duh membuat kaki rasanya ingin cepat ke luar dari gedung ini. Pijak demi pijak kami lewati dengan lampu penerangan dari telepon genggam. Lantai yang terbuat dari kayu sudah terlihat sangat rapuh, dan jika tidak berhati-hati bisa jatuh terperosok.
Ada sekitar lima ruangan besar di bagian lantai satu ini, dan sekarang sedang direnovasi. Di sinilah para hantu hilir mudik ketika malam hari, Ardi pernah bertemu dengan tuyul saat tengah jaga malam di gedung ini.
"Kalau lagi jaga malam suka iseng, suka banyak yang nampakin, atau ganggu kaya suara kepala gelundung sering banget terdengar," jelasnya.
Tak hanya itu, suara teriakan bahkan suara ketawa juga sering didengarnya dan juga penjaga lain. Hingga akhirnya ia terbiasa untuk menerima kehadiran mahluk di sana.
"Gedung ini sangat besar, dan gelap, katanya ini sudah diserahkan ke DKI untuk dijadikan museum karena udah empat tahun gedung tidak digunakan," tuturnya.
Gedung memang sayang sekali untuk terbengkalai meski mistis dan penuh dengan penampakan. Namun gedung patut untuk diperjuangkan dan diperbarui sehingga berguna untuk mengenang sejarah.
"Cuma gedung di depan saja yang sekarang jadi ruangan pertemuan yang sudah diperbarui dan juga modern," tuturnya.
Di gedung yang pernah dijadikan Mahkamah Agung itu juga tak luput dari suasana mistis di area belakang yang menjadi tempat istirahat ternyata sering ada sosok kuntilanak berkeliaran di sekitar area.