BAGI masyarakat Jawa istilah bekatul bukanlah hal baru. Kulit ari dari beras ini biasanya dikenal sebagai limbah dan paling bermanfaat hanya sebagai pakan ternak seperti ayam atau bebek. Tapi di tangan perempuan asal Semarang, Ismi, bekatul diolah jadi makanan yang bisa bersaing dengan makanan khas daerah.
Ditemui Okezone di Jakarta, perempuan ramah ini menceritakan pengalamannya mengolah bekatul hingga menjadi bagelen atau roti kering. Ismi sebelumnya sudah memiliki usaha bakery homemade yang memproduksi berbagai jenis rotiyang dimulai sejak 2011. Tapi seiring berjalannya waktu, perempuan ini ingin terus berinovasi dan tepat pada awal 2016 ia berinisiatif mengolah bekatul menjadi produk roti.
Ternyata semua tidak seperti yang dibayangkan Ismi, karena untuk membuat bagelen bekatul alias lentul tidak semudah membuat bagelen dengan tepung terigu.
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-version="7" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);"><div style="padding:8px;"> <div style=" background:#F8F8F8; line-height:0; margin-top:40px; padding:50.0% 0; text-align:center; width:100%;"> <div style=" background:url(data:image/png;base64,iVBORw0KGgoAAAANSUhEUgAAACwAAAAsCAMAAAApWqozAAAABGdBTUEAALGPC/xhBQAAAAFzUkdCAK7OHOkAAAAMUExURczMzPf399fX1+bm5mzY9AMAAADiSURBVDjLvZXbEsMgCES5/P8/t9FuRVCRmU73JWlzosgSIIZURCjo/ad+EQJJB4Hv8BFt+IDpQoCx1wjOSBFhh2XssxEIYn3ulI/6MNReE07UIWJEv8UEOWDS88LY97kqyTliJKKtuYBbruAyVh5wOHiXmpi5we58Ek028czwyuQdLKPG1Bkb4NnM+VeAnfHqn1k4+GPT6uGQcvu2h2OVuIf/gWUFyy8OWEpdyZSa3aVCqpVoVvzZZ2VTnn2wU8qzVjDDetO90GSy9mVLqtgYSy231MxrY6I2gGqjrTY0L8fxCxfCBbhWrsYYAAAAAElFTkSuQmCC); display:block; height:44px; margin:0 auto -44px; position:relative; top:-22px; width:44px;"></div></div> <p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/BNNmY2OAUMj/" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Saat bangku kuliah tidak dapat direngkuh, tapi asa untuk berbagi dan menjadi berguna bagi orang lain begitu besarnya. Disini aku menemukan hidupku yang sebenarnya... Selamat Hari Guru,....Guru kehidupanku #empoweringwomen #empowering #berbagi #kelasinspirasi #superroti</a></p> <p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A photo posted by ismi yati (@ismiyunanda) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2016-11-25T00:09:56+00:00">Nov 24, 2016 at 4:09pm PST</time></p></div></blockquote>
<script async defer src="//platform.instagram.com/en_US/embeds.js"></script>
“Saya awalnya sangat semangat, optimis sekali mau bikin roti pakai bekatul. Tapi pas dicoba ternyata kok sulit sekali. Proses coba-cobanya sangat lama,” kata Ismi kepada Okezone.
Perempuan ini lanjut menceritakan pengalamannya hingga menemukan resep bagelen memakan waktu hingga 3 bulan. “Pertama saya buat 100 persen pakai bekatul, itu rasanya ampun-ampunan tidak enak, keras dan saya juga ogah makannya apalagi orang. Lalu saya coba substitusi 80 persen bekatul dengan 20 persen terigu, hasilnya juga masih enggak bagus. Sampai akhirnya substitusi 60 persen terigu dan 40 persen bekatul adalah yang paling pas,” beber Ismi.
Bekatul ternyata memiliki kandungan gizi yang baik, ampas beras ini mengandung protein dan serat yang tinggi sehingga jika dikonsumsi akan sangat baik untuk tubuh. Selain itu Ismi menggunakan bahan pemanis berupa fruktosa yakni gula buah yang bukan hanya menghasilkan rasa manis tetapi juga lebih sehat.
Selama proses uji coba ini Ismi banyak mendapat tentangan dari keluarga maupun dari karyawannya. “Suami yang awalnya dukung, sampai marah dan bilang ngapain buang-buang waktu, bahan, biaya buat bikin roti yang enggak enak. Tapi saya tidak putus asa dan terus mencoba karena saya yakin ini bisa jadi produk yang bisa dijual,” lanjutnya.
Benar saja, tepat di pertengahan 2016 Ismi sudah bisa memproduksi bagelen bekatul ini. Tak hanya laku di pasaran, lewat bagelen bekatul ini Ismi juga berhasil menyabet berbagai penghargaan dan memenangkan lomba. Kini bagelen bekatul jadi produk yang terpampang di sentra oleh-oleh di Semarang.
Rasanya yang enak, renyah dan sehat membuat bagelen bekatul Ismi banyak diminati orang. Tak hanya di Jawa, bagelen ini sudah dikirim ke daerah-daerah lain di Indonesia seperti Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Sumatera dan lain sebagainya.