THANKSGIVING tidak umum dirayakan di China. Tapi sebuah toko roti kecil di kawasan Beijing mengepulkan 'aroma wangi' liburan khas Amerika ini.
Menjelang beberapa perayaan Thanksgiving, adalah waktu sibuk bagi Grace Yang dan rekan-rekanya di toko roti Bread of Life Bakery. Lebih dari 300 pesanan pie khas Western harus mereka penuhi sebelum masa liburan Thanksgiving yang jatuh setiap minggu ke-empat November. Para pelanggan umumnya adalah ekspatriat asal Amerika Serikat yang tinggal di Ibu Kota China.
Grace Yang bukan bakers biasa. Perempuan berusia 29 tahun ini lahir di Provinsi Shaanxi. Ia mengenang masa kecilnya hingga akhirnya berada di toko roti ini untuk meniti masa depanya.
Anak yang tak diharapkan
Bekerja sambil tetap duduk di atas kursi roda, Yang mengalami kelumpuhan yang membuatnya tidak bisa berjalan akibat penyakit polio yang dideritanya sejak masih bayi. Ia pun ditinggalkan orang tuanya ketika berumur empat tahun dan dibesarkan oleh rumah yatim piatu milik negara.
Apa yang dialami Yang bukan yang unik terjadi di China. Hampir keluarga di China akan meninggalkan anak-anak mereka yang lahir cacat atau cacat dalam masa pertumbuhannya.
Meski merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat, ahli kesejahteraan di China mengatakan, China tidak memiliki jaminan sosial yang memadai. Banyak orang tua yang tidak bisa menanggung biasa pengobatan bagi anak mereka yang cacat.
Anak-anak yang tidak diinginkan oleh orang tuanya karena kecacatan fisik nyaris tidak memiliki kesempatan pekerjaan atau masa depan yang baik untuk menunjang kehidupan mereka. Ini yang akhirnya memotivasi pasangan asal Amerika, Keith dan Cheryl Wyse memulai kegiatan sosial mereka pada 2008. Pilihan mereka jatuh pada membuat toko roti yang mempekerjakan orang-orang dengan disabilitas atau penyakit tulang yang membuat tubuh mereka lumpuh. Semua pegawainya tentu adalah anak-anak yatim piatu.
Salah satunya adalah Yang, yang bergabung sejak 2011 sebagai pegawai penuh waktu. Di tempat inilah ia belajar membuat roti dan pie. Ia bahkan tidak memiliki pengetahuan apapun soal membuat kue khas Barat ketika bergabung dengan toko roti ini.
'Aku mulai mencintai membuat kue'
"Pada awalnya ini sangat sulit untuk saya, khususnya tentang bagaimana mengira-ngira berapa takaran dari bahan-bahan yang harus digunakan. Ini sesuatu yang belum pernah aku lakukan," kenang Yang kepada CNN. "Tapi perlahan aku mulai menyukai membuat kue," lanjutnya.
Pada perayaan Thanksgiving, Yang berpikir ia sangat beruntung dan diberkahi karena Bread of Life memberinya kesempatan untuk bekerja pertama kalinya.
"Sebelum berada di tempat ini, aku tersesat dan sangat bingung. Aku tidak tahu apa yang bisa aku harapkan untuk masa depanku kelak. Di toko roti ini, aku belajar untuk merdeka dan berjuang," ujarnya.
SOal harapannya di masa depan, Yang berharap suatu hari nanti ia bisa membangun toko roti sendiri dan memulai sebuah keluarga. " Aku hidup tanpa keluarga, jadi jika kelak aku punya anak aku akan memberi anak-anakku cinta yang tidak pernah aku dapatkan," tutupnya. Demikian seperti dilansir dari CNN, Selasa (29/11/2016). Untuk lihat video klik di sini.
(Santi Andriani)