KEHIDUPAN modern menuntut kita lebih banyak aktif dan terjaga. Pada 1910, para ahli menyarankan agar setiap orang tidur selama sembilan jam semalam. Hari ini, jam tidur ideal sudah terpangkas menjadi hanya tujuh jam semalam.
Tumpukan pekerjaan membuat kita sering tinggal di kantor lebih lama atau melanjutkan tugas-tugas di rumah. Mungkin kita menganggap menjadi seorang workaholic adalah hal biasa saja karena semua orang pun melakukan hal yang sama. Menurut data, lebih dari enam juta orang Inggris Raya bekerja selama 45 jam setiap pekan. Sementara pegawai di Amerika Serikat menghabiskan waktu untuk bekerja lebih lama, yaitu 47 jam per minggu. Bahkan empat dari 10 pekerja Amerika mengaku bekerja selama 50 jam setiap pekan. Artinya, mereka semua bergulat dengan tugas kantor lebih lama daripada jadwal kerja yang seharusnya hanya dilakukan sejak jam 09.00 hingga pukul 17.00.
Padahal, kerja lembur membuat kita kurang tidur sehingga akan berakibat buruk bagi kesehatan. Hal ini mungkin tidak akan kita rasakan besok atau lusa. Dampak negatif dari ketidakseimbangan kehidupan kerja akan dirasakan pada sepuluh tahun kemudian. Bagaimana hal ini terjadi?
Para peneliti di Universitas Jyvaskyla di Finlandia melakukan studi untuk melihat secara spesifik hubungan antara jam kerja dengan durasi tidur. Mereka mememonitor kualitas kesehatan dari 1527 pebisnis yang lahir antara tahun 1919-1934. Data yang terkumpul sejak 1974 hingga 26 tahun kemudian. Hasil penelitian berjudul usia dan penuaan dipublikasikan di jurnal The British Geriatrics Society. Berikut beberapa poin penelitian yang dikutip dari medicalnewstoday.com.