Cerita Dongeng dalam Peragaan Busana Hian Tjen

Ainun Fika Muftiarini, Jurnalis
Kamis 20 Agustus 2015 16:32 WIB
Chateau Fleur karya Hian Tjen (Foto: Deden/Okezone)
Share :

SEMALAM, desainer Hian Tjen menggelar sebuah fashion show tunggal. Peragaan yang terinspirasi dari cerita dongeng tersebut merupakan pertama kalinya sejak berkarier di dunia mode Indonesia.

Ada 50 busana yang dihadirkan. Seluruh busana tersebut kemudian dikemas dengan tema Chateau Fleur.

Inspirasi peragaan busana bertema Chateau Fleur sendiri datang dari sebuah cerita dongeng. Dalam dongeng tersebut, Hian Tjen bercerita tentang dunia yang diisi oleh sisi baik dan sisi jahat. Meski begitu, seluruh busana yang dihadirkan tetap sesuai dengan ciri khas rancangan Hian Tjen yang memiliki mengeksplor sisi feminin dari wanita.

“Ini cerita tentang kastil, intinya saya ingin menghadirkan good side dan evil side,” ujarnya kepada Okezone usai pergelaran busana di Hotel Raffless, Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2015.

Berlatar belakang sebuah kastil kuno yang ditumbuhi akar-akar menjulang serta meja jamuan makan tak beraturan, peragaan busana tersebut dibagi menjadi lima sesi. Pertama, peragaan busana dibuka dengan para model yang memakai busana yang menggambarkan evil side. Busana dengan dominasi warna merah tersebut terdiri dari ballgown, gaun flowy, strapless dress hingga padu padan dengan outer. Untuk koleksi kali ini, Hian tjen juga menghadirkan banyak permainan detail, mulai dari kerah ruffle ala victorian era, lipit, payet, opnaisel, tempelan hingga swarovski yang memberi kesan glamor.

“Bajunya banyak detail, bulu dan payet, kristal dan tingkat kesulitannya sangat tinggi,” imbuhnya.

Sedangkan di sesi kedua, Hian Tjen menghadirkan busana bernuansa hitam dan terkesan misterius. Koleksi tersebut juga masih satu benang merah dengan yang ada di sesi pertama. Hian Tjen banyak menampilkan gaun dengan model off shoulder, gaun lengan lebar, sequin, terusan hingga jubah. Di sesi ini pun, detail masih banyak dimainkan. Khususnya seperti ruffle di bagian tengah ke atas.

Sementara di sesi ketiga dan keempat, koleksi yang dihadirkan menggambarkan good side. Koleksi tersebut diinterpretasikan melalui palet warna pastel, seperti baby blue, krem, keemasan, serta putih. Untuk model busana, Hian Tjen masih tetap setia dengan gaun bervolume atau ballgown, strappless dress hingga busana yang memeluk tubuh dengan hiasan berbagai macam detail, di antaranya bulu-bulu hingga fringe. Peragaan busana ditutup dengan munculnya dua model yang mengenakan busana dengan detail rumit.

Secara keseluruhan, busana tersebut menggambarkan kehalusan dan kualitas yang tinggi dalam pengerjaannya. Begitupula dengan penggunaan material dalam setiap potong busana. Menurut Hian Tjen, material tersebut terdiri dari dari brukat, lace, plastik yang memberi kesan kaku sehingga lace-nya bisa berdiri, jacquard, scuba, serta silk.

“Semuanya handmade. Aku kerjakan benar-benar setengah tahun. Tapi, sebenarnya proses ide sudah dimulai dari 1,5 tahun yang lalu,” kata desainer kelahiran Pemangkat itu.

Lebih lanjut, Hian Tjen menuturkan siapa saja yang cocok untuk memakai busananya kali ini. Menurutnya, busana tersebut menyasar pada wanita yang mapan dengan gaya seksi, elegan, serta feminin.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya