Pada Sabtu-Minggu atau hari libur lainnya, banyak warga datang ke sini, baik dengan mobil mau pun sepeda motor. Mereka bebas bersantai di gubuk-gubuk atau pinggiran waduk, menikmati udara segar dan panorama Lembah Brayeung.
Pergi ke sini tentu belum lengkap bila tidak mencoba mandi. Kalau mau lebih seru lagi, maka wajib menjelajah waduk dengan ban, perahu karet, atau perahu bebek. Cukup membayar Rp10 ribu hingga Rp40 ribu kepada penyewanya, kita bebas bersantai menyisir sisi-sisi waduk yang rimbun dengan pepohonan.
Untuk ke Lembah Brayeung, kita harus melintasi Jalan Banda Aceh-Meulaboh. Jarak tempuhnya mencapai satu jam dari Banda Aceh. Namun perjalanan ke sini dijamin tak membosankan, karena sepanjang jalan kita disuguhkan keelokan Samudera Hindia dan perbukitan.
Setiba di kawasan kilometer 23 atau di persimpangannya, harus menempuh 3 km lagi untuk sampai ke Lembah Brayeung. Jalan ke sini lebarnya hanya sekira 3,5 meter, namun sepanjang jalan yang telah teraspal ini, mata kita dimanjakan dengan hamparan sawah dan rindangnya pepohonan.
Di pintu masuk, Anda cukup membayar Rp3.000 per orang, untuk bisa menikmati keindahan Lembah Brayeung. Warga yang mengelola terus berupaya menjaga kebersihan area tempatnya untuk mengais rezeki. Sayangnya, perilaku sebagian pengunjung yang suka buang sampah sembarang sering mencemari keelokan Lembah Brayeung.
(Yogi Cerdito)