Regorafenib Harapan Baru Penderita Kanker Usus Besar

Erika Kurnia, Jurnalis
Rabu 29 Oktober 2014 19:00 WIB
Regorafenib obat baru penderita kanker usus (Foto: Bayer)
Share :

KANKER kolorektal adalah salah satu kanker yang sering dialami masyarakat dunia. Menurut penelitian terakhir WHO, telah terdapat lebih dari 940.000 kasus kanker jenis ini, yang menempati urutan ketiga setelah kanker paru dan payudara.

Kanker kolorektal adalah kanker yang dikembangkan oleh sel-sel abnormal di daerah usus besar. Faktor yang mempengaruhi munculnya kanker ini seperti faktor usia, kelainan genetik (mutasi gen), riwayat keluarga, polip, penyakit kronis seperti diabetes tipe 2, dan pola hidup yang tidak sehat.

Berbagai terapi pengobatan dapat dilakukan untuk mengobati kanker. Tindakan operasi pengangkatan jaringan kanker adalah tindakan yang umum dilakukan. Selain itu pengobatan sistemik dengan kemoterapi juga perlu untuk mengendalikan sel kanker. Kini, satu jenis pengobatan untuk terapi target telah dikembangkan, yaitu Regorafenib.

Regorafenib adalah satu-satunya pengobatan oral untuk kanker kolorektal stadium lanjut. Sejauh ini regorafenib merupakan obat lini ketiga yang dapat diberikan setelah pasien diberikan terapi standar di awal.

"Regorafenib adalah obat terapi target yang memiliki fungsi mematikan sel kanker melalui galur tertentu, mencegah jaringan kanker untuk mengembangkan pembuluh darah (neoangiogenesis). Ini lebih baik dari kemoterapi yang dapat merusak inti sel tanpa membedakan sel normal dan yang abnormal," tutur Prof. Dr. dr. Arry Harryanto, SpPD KHOM di Hotel Intercontinental, di Jalan Sudirman, Jakarta, Rabu (29/10/2014).

Regorafenib telah mendapat izin edar dari BPOM Amerika (FDA) dan telah diberi izin oleh BPOM Indonesia pada pertengahan bulan ini. Sejauh ini, menurut penelitian di Asia, regorafenib masih menjadi pengobatan di lini ketiga, namun ini terbukti lebih tinggi menekan risiko kematian sampai 45 persen, pada ras Asia.

"Perlu dokter penyakit dalam untuk menentukan tindakan medis apa yang harus diambil pasien. Namun, diagnosa dini adalah yang terbaik untuk mencegah terjadinya keparahan penyebaran kanker. Pemeriksaan tinja dengan FOBT dan skrining dapat dilakukan sejak dini," sarannya.

(Renny Sundayani)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya