“Untuk menikah di Papua itu mahal, laki-laki kalau ingin menikah mas kawinnya besar. Jadi mereka berpikir bahwa sudah membayar mahal untuk menikahi perempuan maka dia itu harus tunduk padanya. Diskriminasi itu masih sangat terlihat, tapi itu di Biak. Saya tidak tahu kalau di tempat lain,” terangnya.
Dengan begitu, Profesor perempuan pertama dari Papua ini merasa tertantang untuk menangani permasalahan kesetaraan gender di Indonesia. Terlebih jika dibandingkan dengan negara lain, Indonesia masih harus memperbaiki banyak hal.
“Saya lihat Kita Indonesia masih sangat jauh dari kesetaraan gender. Itu tugas kita, saya merasa ditempatkan dengan tantangan yang luar biasa, dan tidak mudah terutama menyangkut adat, istiadat dan agama,” tutupnya.
(Ainun Fika Muftiarini)