MARAKNYA kehadiran kebaya modern tak membuat Era Soekamto meninggalkan akar budaya. Dengan posisinya sebagai desainer, Era pun terpanggil untuk membuat kebaya kartini sebagai bentuk pelestarian budaya lokal.
Perkembangan desain kebaya di pasaran kini semakin pesat. Tak ayal jika busana tradisional itu seakan telah kehilangan jati diri yang sebenarnya. Seperti yang kita tahu, kebaya merupakan busana tradisional yang memberikan kesan kesederhanaan bagi pemakainya. Namun, modifikasi kebaya yang dihadirkan saat ini justru seolah menghilangkan esensi tersebut.
Kendati demikian, banyak orang yang tak mau tahu akan hal tersebut. Bagi mereka, yang paling penting ialah kesan glamor dan tidak kuno saat mengenakannya. Oleh karena itu, tingginya minat konsumen akan busana tersebut tentu saja membuat desainer seolah menciptakan karya yang sama.
Namun kondisi ini tidak ingin dimanfaatkan desainer Era Soekamto. Menurut wanita berdarah Jawa itu, jika semua orang sudah menciptakan sesuatu yang sama, maka ini justru tantangan baginya menghadirkan sesuatu yang berbeda.
“Kalau era mau masuk red option, mau kebaya apa lagi, banyak yang merancang kebaya sama semua, jadi kenapa tidak tampilkan yang berbeda,” ujarnya saat berbincang eksklusif dengan Okezone di butik Iwan Tirta Private Collection, kawasan Wijaya, Jakarta Selatan, belum lama ini.
Sebagai orang yang menjunjung tinggi nilai budaya, Era pun merasa terpanggil untuk menciptakan rancangan kebaya yang berbeda dari para desainer lain.
“Nah, strategi yang saya lakukan ialah mengembalikan pakem dan menjaga eksistensinya. Aku juga melihat orang kan sekarang sudah mulai kangen dengan kebaya kartini, kebaya dengan motif bunga-bunga keluar lagi,” tutupnya. (ind)
(Tuty Ocktaviany)