JAKARTA - Kamu tahu Kimchi? Ya, olahan sayur fermentasi khas Korea Selatan yang selama ini dikenal luas berkat cita rasanya yang segar serta manfaatnya yang melimpah bagi kesehatan pencernaan.
Namun, dibalik kelezatannya yang populer di kalangan pecinta budaya pop Korea, makanan tradisional ini ternyata menyimpan potensi besar dalam mengatasi masalah lingkungan dan kesehatan modern, yakni paparan nanoplastik di dalam tubuh manusia.
Temuan menarik tersebut diungkapkan oleh praktisi bisnis lingkungan sekaligus konten kreator, Bang Sap dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, @abangsap_. Ia membagikan hasil riset terbaru yang menunjukkan bahwa kandungan dalam kimchi memiliki kemampuan unik untuk mengikat dan mengeluarkan partikel plastik dari tubuh manusia.
"Selain jadi makanan favorit pecinta drama Korea, ternyata kimchi juga berpotensi jadi solusi buat ngatasin permasalahan plastik yang udah terlanjur masuk ke dalam tubuh manusia, loh," ujar Bang Sap, dikutip Kamis (22/10/2026).
Ia menjelaskan bahwa temuan ini berasal dari kelompok riset fungsionalitas kimchi di World Institute of Kimchi, Korea Selatan. Para peneliti di lembaga tersebut berhasil mengidentifikasi adanya bakteri khusus dari kimchi yang mampu menangkap partikel nanoplastik saat berada di dalam usus.
Proses pembersihan mikroba ini bekerja secara alami melalui struktur fisik sel bakteri itu sendiri. Struktur tersebut memungkinkan partikel mikro dan nanoplastik yang tak sengaja tertelan dapat terikat sebelum sempat diserap oleh organ tubuh.
"Cara kerjanya gini, di dinding sel bakteri ini, ada bagian yang bisa lengket sama partikel plastik. Plastik yang nempel di bakteri ini akhirnya ikut terbawa keluar bareng kotoran, jadi nggak sempat tuh terserap di dalam tubuh," ucapnya.
Meski begitu, hasil pengujian sejauh ini masih berada dalam taraf laboratorium dan eksperimen hewan uji. Berdasarkan publikasi di jurnal internasional, efektivitas bakteri pengikat plastik ini menunjukkan hasil signifikan pada pengujian skala laboratorium maupun pada subjek uji tikus.
"Penelitian di jurnal internasional menyebutkan, di laboratorium, bakteri ini bisa mengikat sampai 87 persen nano plastik. Di cairan yang dibuat mirip usus, daya ikatnya masih 57 persen. Lalu waktu diuji ke tikus, nano plastik yang keluar lewat feses jumlahnya lebih dari dua kali lipat dibandingkan tikus yang nggak dikasih makan bakteri ini," ungkap Bang Sap.
Meskipun masih memerlukan tahapan pengujian klinis lebih lanjut pada manusia dengan kompleksitas sistem pencernaan yang lebih rumit, potensi ini memberikan angin segar bagi dunia sains dan kesehatan. Temuan ini menjadi titik terang dalam upaya penanganan dampak akumulasi mikroplastik dan nanoplastik yang kian marak mengkontaminasi rantai makanan sehari-hari.
"Jadi, masih perlu uji lagi di usus manusia yang isinya jauh lebih kompleks. Walaupun masih di tahap tikus, ini tetap kabar gembira. Selama ini kan kita cuma ngurangin paparan plastik. Sekarang mulai ada harapan nih buat bantu ngeluarin plastik yang udah terlanjur masuk ke dalam tubuh kita," pungkas Bang Sap.
(Agustina Wulandari )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.