KABAR mengenai kondisi kesehatan Winter aespa sempat menjadi perhatian penggemar. Member girl group asal Korea Selatan tersebut diketahui mengalami herpes zoster, penyakit yang dalam bahasa sehari-hari kerap disebut cacar ular.
Lantas, apa itu herpes zoster? Apakah virus tersebut membahayakan tubuh seseorang yang menderitanya?

Dilansir dari Cleveland Clinic, herpes zoster merupakan infeksi yang disebabkan oleh virus varicella-zoster, yakni virus yang sama dengan penyebab cacar air. Virus tersebut dapat tetap berada di dalam tubuh setelah seseorang sembuh dari cacar air dan kembali aktif bertahun-tahun kemudian.
Meski dapat dialami siapa saja yang pernah terkena cacar air, herpes zoster lebih sering terjadi pada orang yang berusia lebih tua atau memiliki sistem kekebalan tubuh yang melemah. Herpes zoster terjadi ketika virus varicella-zoster yang sebelumnya tidak aktif di dalam sel saraf kembali aktif.
Ketika aktif kembali, virus dapat mengikuti jalur saraf menuju permukaan kulit dan menyebabkan ruam yang biasanya muncul di satu sisi tubuh. Salah satu ciri khas penyakit ini adalah munculnya ruam atau lepuhan yang disertai rasa nyeri.
Namun, gejala dapat dimulai sebelum ruam terlihat. Beberapa gejala yang mungkin muncul antara lain nyeri seperti terbakar atau tertusuk, kesemutan, rasa gatal, kulit menjadi kemerahan atau berubah warna, demam, menggigil, sakit kepala, hingga tubuh terasa lemas atau tidak enak badan. Pada sebagian orang, nyeri atau kesemutan bahkan dapat muncul beberapa hari sebelum ruam terlihat.
Setelah seseorang mengalami cacar air, virus varicella-zoster tidak sepenuhnya hilang dari tubuh. Virus tersebut dapat menetap dalam kondisi tidak aktif di jaringan saraf.
Dalam kondisi tertentu, virus dapat mengalami reaktivasi dan menyebabkan herpes zoster. Usia menjadi salah satu faktor risiko utama. Selain itu, orang dengan sistem kekebalan tubuh yang melemah juga memiliki risiko lebih tinggi.
Kondisi tertentu, seperti kanker, HIV, atau penggunaan obat yang menekan sistem kekebalan tubuh, dapat meningkatkan risiko herpes zoster. Stres juga sering dikaitkan dengan munculnya penyakit ini, meskipun hubungan tersebut tidak selalu dapat dibuktikan secara pasti.
Ruam herpes zoster biasanya muncul pada satu sisi tubuh atau wajah. Lokasinya dapat berada di dada, punggung, perut, leher, atau sekitar pinggang.
Ruam kemudian dapat berubah menjadi lepuhan berisi cairan. Dalam beberapa hari, lepuhan akan mengering dan membentuk keropeng. Proses penyembuhan biasanya membutuhkan waktu beberapa minggu.
Namun, tidak semua penderita herpes zoster mengalami ruam. Kondisi ketika gejala herpes zoster muncul tanpa ruam juga dapat terjadi sehingga diagnosis terkadang lebih sulit dilakukan.

Herpes zoster tidak menular kepada orang lain dalam bentuk herpes zoster. Namun, seseorang yang sedang mengalami herpes zoster dapat menularkan virus varicella-zoster kepada orang yang belum pernah terkena cacar air atau belum mendapatkan vaksin cacar air. Orang yang tertular tersebut dapat mengalami cacar air.
Penularan terutama dapat terjadi melalui kontak dengan cairan dari lepuhan. Karena itu, penderita sebaiknya menutup area ruam dan menghindari kontak dekat dengan orang yang rentan sampai lepuhan mengering.
Sebagian besar penderita herpes zoster dapat pulih tanpa komplikasi serius. Namun, penyakit ini tetap perlu mendapatkan perhatian karena dapat menyebabkan komplikasi.
Komplikasi yang paling umum adalah postherpetic neuralgia, yaitu nyeri saraf yang bertahan setelah ruam menghilang. Nyeri tersebut dapat berlangsung selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun pada sebagian penderita.
Komplikasi lainnya dapat berupa infeksi bakteri pada kulit, gangguan penglihatan jika virus menyerang area mata, gangguan pendengaran, kelumpuhan wajah, ensefalitis, vertigo, hingga pneumonia. Herpes zoster yang mengenai area mata perlu segera mendapatkan penanganan medis karena dapat mengganggu penglihatan.
Dokter dapat memberikan obat antivirus untuk membantu mempercepat proses pemulihan dan mengurangi risiko komplikasi. Beberapa obat antivirus yang umum digunakan untuk herpes zoster antara lain acyclovir, famciclovir, dan valacyclovir.
Obat pereda nyeri juga dapat digunakan sesuai anjuran tenaga kesehatan. Penanganan sebaiknya dilakukan sesegera mungkin setelah gejala muncul. Pengobatan antivirus yang dimulai dalam beberapa hari pertama dapat membantu mengurangi keparahan dan mempercepat pemulihan pada banyak pasien.
Herpes zoster dapat dicegah dengan vaksin. Salah satu vaksin yang digunakan adalah Shingrix. Vaksinasi terutama ditujukan untuk kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami herpes zoster dan komplikasinya. Rekomendasi vaksinasi dapat berbeda berdasarkan usia, kondisi kesehatan, dan pedoman kesehatan di masing-masing negara.
Kabar mengenai Winter yang mengalami herpes zoster membuat penyakit ini kembali menjadi perhatian penggemar. Namun, detail mengenai kondisi medis seseorang tetap sebaiknya merujuk pada pernyataan resmi dari pihak yang bersangkutan atau agensinya.
Yang perlu dipahami, herpes zoster merupakan penyakit yang cukup umum dan dapat dialami seseorang yang sebelumnya pernah terkena cacar air. Penyakit ini juga tidak berarti seseorang mengalami kondisi yang mengancam nyawa.
Meski demikian, penanganan dini tetap penting, terutama apabila ruam muncul di sekitar mata atau disertai gejala berat. Jika mengalami gejala yang menyerupai herpes zoster, jangan mencoba mendiagnosis atau mengobatinya sendiri. Pemeriksaan dokter diperlukan untuk memastikan penyebab dan menentukan terapi yang sesuai.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.