JAKARTA - Dunia perawatan kecantikan kembali menghadirkan inovasi yang tidak biasa. Produk injeksi untuk memperkuat dan memperbaiki kondisi kulit kini dikembangkan menggunakan jaringan kulit manusia yang berasal dari donor.
Teknologi tersebut menjadi salah satu kategori yang tengah berkembang di Korea Selatan. Tingginya permintaan membuat produk berbasis jaringan manusia mulai dikembangkan secara komersial dan dipersiapkan untuk dipasarkan ke sejumlah negara, demikian dilansir dari laman Global Cosmetics News.
Salah satu perusahaan yang mengembangkan teknologi ini adalah perusahaan bioteknologi asal Korea Selatan, L&C Bio. Perusahaan tersebut memproduksi Re2O, sebuah produk injeksi berbasis matriks ekstraseluler atau extracellular matrix (ECM).
Re2O dibuat dari kulit manusia yang didonorkan. Berbeda dengan perawatan yang umumnya ditujukan untuk merangsang pembentukan kolagen, teknologi ini dirancang untuk membantu mengembalikan struktur kulit.
Produk tersebut menyasar kulit yang mengalami proses penuaan dan kehilangan volume. Penggunaannya juga dikaitkan dengan kondisi perubahan wajah setelah penurunan berat badan secara signifikan yang kerap disebut sebagai "wajah Ozempic".
L&C Bio menyebut jaringan yang digunakan dalam produksinya telah memperoleh sertifikasi dari Association for Advancing Tissue and Biologics (AATB), organisasi berbasis di Amerika Serikat.
Popularitas perawatan berbasis jaringan manusia tersebut turut mendorong peningkatan permintaan terhadap Re2O. Bahkan, kebutuhan pasar disebut telah melampaui kemampuan produksi perusahaan.
Kondisi itu membuat L&C Bio berencana meningkatkan kapasitas produksinya. Perusahaan juga tengah memperluas pemasaran ke sejumlah negara di Asia sebelum membidik pasar internasional lainnya, termasuk Amerika Serikat.
Perkembangan tersebut menunjukkan semakin dekatnya teknologi regeneratif dengan industri estetika. Material yang sebelumnya banyak dikembangkan untuk kebutuhan medis kini mulai mendapat perhatian dalam perawatan kulit dan anti-penuaan.
Di balik perkembangan teknologi tersebut, penggunaan jaringan manusia untuk kebutuhan estetika juga memunculkan sejumlah pertanyaan.
Salah satunya berkaitan dengan aspek etika mengenai pemanfaatan jaringan yang berasal dari donor. Selain itu, terdapat persoalan regulasi serta keberlanjutan pasokan jaringan manusia yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan industri.
Penggunaan bahan biologis manusia dalam prosedur estetika juga membuat pengawasan menjadi penting, terutama ketika produk tersebut mulai dipasarkan lintas negara dengan sistem regulasi yang berbeda.
Perkembangan skin booster berbasis jaringan manusia pada akhirnya memperlihatkan bagaimana pengobatan regeneratif dan dermatologi estetika semakin beririsan. Di satu sisi, teknologi ini membuka peluang baru dalam perawatan kulit. Di sisi lain, aspek keamanan, etika, regulasi, dan ketersediaan jaringan donor menjadi hal yang perlu diperhatikan seiring meluasnya penggunaannya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.