
dr. Adam menjelaskan bahwa batasan suhu minuman yang dinilai berisiko tinggi dalam studi tersebut adalah di atas 65 derajat Celsius, dengan fokus utama pada jenis minuman harian masyarakat.
"Definisi minuman sangat panas pada penelitian ini adalah diminum saat suhu >65 C. Jenis minuman pada penelitian ini adalah teh dan kopi," jelas dr. Adam.
Temuan dari penelitian Oxford ini menunjukkan bahwa perbedaan suhu saat diminum memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap potensi munculnya sel kanker.
“Peningkatan risiko terkena kanker kerongkongan pada orang yang rutin minum teh atau kopi saat suhunya masih sangat panas (>65 C), dibandingkan dengan yang diminumnya saat suhu sudah hangat. Kanker kerongkongan pada kondisi ini yang meningkat adalah kanker sel skuamosa," terang dia.
Risiko ini akan makin tinggi jika frekuensi konsumsinya terbilang berlebihan. Seperti diminum dalam kondisi sangat panas (>65°C) dapat meningkatkan risiko hingga 3 kali lebih tinggi. Kemudian menyeruput minuman panas sebanyak >6 cangkir per hari berkaitan dengan peningkatan risiko hingga 71%.
Melihat hasil riset tersebut, dr. Adam menyimpulkan pentingnya memberikan jeda waktu agar suhu minuman turun terlebih dahulu sebelum dikonsumsi.
"Kesimpulan, rutin konsumsi minuman panas, apalagi yang sangat panas (>65 C) setiap harinya, berhubungan dengan peningkatan risiko terjadinya kanker pada kerongkongan," pungkas dr. Adam.
Menikmati kopi maupun teh sejatinya tetap aman dan memiliki berbagai manfaat kesehatan. Kuncinya terletak pada kesabaran untuk menunggu uap panasnya mereda hingga suhunya berubah menjadi hangat dan nyaman bagi saluran kerongkongan.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.