JAKARTA — Pernahkah kamu merasa kondisi tubuh sangat prima tanpa gejala batuk atau demam, namun hasil tes kesehatan menunjukkan adanya kuman Tuberkulosis (TB)? Kondisi ini kerap memicu kebingungan masyarakat. Dalam dunia medis, keadaan tersebut dikenal dengan sebutan TB Laten.
Spesialis Paru dari Divisi Infeksi Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI, Prof. Erlina Burhan dalam unggahan video di akun Instagramnya menjelaskan perbedaan mendasar antara TB Laten dan TB Aktif agar masyarakat tidak salah paham.
“Nah, sekarang saya ingin cerita sedikit tentang beda antara TB laten dan TB yang aktif. Jadi, TB laten itu adalah kondisi ada kuman di dalam tubuh seseorang, tapi kumannya tidur, tidak beraktivitas. Sedangkan kalau TB aktif, kumannya aktif beraktivitas, memperbanyak diri, sehingga bisa menimbulkan kerusakan,” kata Prof. Erlina dikutip Minggu (30/8/2026).
Ia menegaskan bahwa orang yang mengalami TB Laten sama sekali tidak merasakan keluhan fisik. Hasil pemeriksaan penunjang standar seperti foto Rontgen maupun tes dahak pun kerap menunjukkan hasil negatif.
“Kalau TB laten enggak, kumannya sedikit jumlahnya dan tidur, sehingga orangnya sehat, tidak ada gejala batuk, tidak ada demam, tidak berkeringat malam, tidak turun berat badan. Kalau di-Rontgen pun normal, nggak ada kelainan sama sekali. Ya, dan kalau diperiksa dahak juga negatif,” terang dia.
Meski begitu, keberadaan kuman "tidur" ini bisa terdeteksi melalui pemeriksaan spesifik. Seperti Mantoux test atau tuberkulin test,m serta tes IGRA.
“Jadi semuanya negatif, tidak ada gejala, Rontgen toraksnya juga negatif, dahaknya juga negatif, tapi Mantoux test-nya positif, IGRA-nya juga positif. Jadi Mantoux test dan IGRA-nya menunjukkan bahwa ada rekam jejak kuman di tubuhnya, tapi tidak ada penyakitnya,” tutur Prof. Erlina.
Beda dengan TB Aktif. Menurut Prof. Erlina, TB Aktif memicu berbagai gejala sistemik seperti batuk berpanjangan, demam, keringat malam, hingga penurunan berat badan secara drastis. Foto Rontgen dan tes dahak penderita TB Aktif juga biasanya menunjukkan tanda kelainan infeksi.
“Jadi TB laten: ada kuman, tapi tidak sakit. Berbeda dengan TB aktif. TB aktif itu kumannya aktif berkembang biak, sehingga menimbulkan kerusakan, menimbulkan gejala, ada batuk, ada demam, ada keringat malam, nafsu makan turun, berat badan turun, lesu, letih, lemah, karena kumannya berkembang biak. Ya, dan di foto Rontgen juga terlihat bahwa di paru-parunya ada kelainan. Diperiksa dahak juga biasanya positif kalau TB aktif ini,” katanya.
Lantas, jika seseorang terdiagnosa TB Laten tanpa gejala, apakah ia harus tetap menjalani penanganan medis? Prof. Erlina mengingatkan bahwa kuman TB Laten dapat sewaktu-waktu "bangun" dan berubah menjadi TB Aktif jika kondisi daya tahan tubuh menurun.
“Nah, jadi jelas kan sekarang bedanya TB laten dan TB aktif? Kalau TB aktif, itu harus, wajib diobati sampai sembuh. Bagaimana kalau TB laten? Kan enggak ada gejala, semuanya negatif. Apakah perlu diobati? Nah, jadi kalau TB laten ini yang kita harus pikirkan adalah bahwa kita cegah jangan sampai menjadi TB aktif. Karena pada kondisi tertentu, TB laten ini bisa menjadi TB aktif,” ucap Prof. Erlina.
Risiko TB Laten berkembang menjadi TB Aktif jauh lebih tinggi pada kelompok rentan dengan sistem imun yang belum sempurna atau terganggu.
“Contohnya pada bayi, pada anak-anak yang sistem imunnya belum berkembang sempurna, atau pada orang dengan komorbid atau penyakit-penyakit lainnya yang sistem imunnya turun, maka biasanya dari TB laten bisa menjadi TB aktif,” tambah dia.
Sebagai langkah perisai, pasien TB Laten disarankan menjalani terapi khusus yang dinamakan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT).
“Nah, biasanya ini kita lakukan pengobatan pencegahan, namanya TPT: Terapi Pencegahan Tuberkulosis. Jadi ini bukan pengobatan, tapi terapi pencegahan. Itu ada yang 6 bulan, ada yang 3 bulan, ada yang 1 bulan,” ucap Prof. Erlina.
(Agustina Wulandari )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.